Hawa dingin mulai
menjalar, debu beterbangan memenuhi udara kota intan. Angin berhembus menerpa
butiran-butiran hujan yang membasahi tanah Limbangan, kilat berlompatan
diiringi suara guntur yang menggelegar. Kota pun berubah, dari yang semula
ramai kini menjadi sepi tak berarti. Bagaikan kota mati, dalam guyuran hujan
yang menjadi tak nampak kehidupan sama sekali.
Sama seperti
waktu itu, aku berdiri menatap hujan dan terpaku pada keheningan alam bawah
sadar. Di bawah sebuah pohon depan masjid agung aku berdiri, menanti dalam
sepi. Derasnya masa lalu yang ikut menetes bersama guyuran hujan tampak jelas
di mataku, mengalirkan kenangan-kenangan yang tak pernah kulupa.
Ya, kenangan
masa lalu yang selalu hidup dalam diriku. Yang muncul setiap kali hujan turun
dan mereda ketika hujan berhenti, dan selalu berhasil memahat sebuah senyum di
wajah yang terluka.
Seperti saat
ini, waktu itu hujan deras juga membasahi tanah Limbangan. Bau tanah menyeruak
memenuhi udara, dan hawa dingin menyelimuti setiap sudut kota. Tak ada siapapun
di depan rumah, mereka semua sembunyi di balik kehangatan dan kenyamanan
perapian. Tak seorangpun berada di luar, hanya aku dan Vriski yang waktu itu
ada di jalan.
Kami memang
baru di kota ini, dan kami tidak mengenal siapapun kecuali nenek yang memang
menjadi tujuan kami kesini. Ditemani halilintar yang menggelegar, kami
menyusuri setiap lorong di Limbangan. Tak nampak ada kehidupan, selain para
tikus yang lari terbirit-birit saat kami melewati sarang mereka.
Sungguh ironi,
di balik wajah megah kota intan masih terselip celah busuk penuh kotoran. Yang
dari kejauhan penuh dengan keagungan dan memikat siapapun agar datang mencoba
peraduan, Kota yang menampakkan segala kemewahan serta menjanjikan kenyamanan.
Ternyata tak sanggup untuk menyembunyikan segalanya, banyak sekali tempat jorok
yang luput dari pemberitaan namun masih tetap dipertahankan.
Berbeda dengan
Jakarta yang bermain terang-terangan, kota ini justru menghindari sorotan untuk
tempat seperti itu. Seperti yang kukatakan, jarang sekali aku mendengar sosok
terbelakang kota intan. Yang kutahu dari kota ini hanya ketenangan,
keleluasaan, dan keindahan. Tak ada kabar miris menyinggung kota ini, sampai
akhirnya aku menyaksikannya sendiri. Wajah lain dari Limbangan, yang tak sanggup
lagi disembunyikan.
“Vriska, kamu
nggak apa-apa?”
Aku tersenyum.
“Nggak kok,
aku nggak apa-apa?”
“Kita
istirahat di bawah pohon itu aja ya, nunggu hujan berhenti. Baju kamu udah
basah!” Vriski menarik tanganku dan
membawaku berlari ke bawah pohon besar dipinggir jalan. “Ayo duduk! Kita
tunggu ujan berhenti, abis itu baru kita lanjut lagi.” Dia menatap hujan dengan
dalam, kemudian dia menundukkan kepalanya melihat pada sepatunya yang basah
terkena hujan. Senyum tipis terukir di wajahnya saat dia memandang bayangannya
yang terpantul di genangan air, sangat tenang bagaikan langit cerah yang
bersembunyi di balik derasnya hujan.
“Kak, apa
benar nggak apa-apa kita kabur dari rumah kayak gini? Apa nggak bakal ada yang
nyari?” aku memandang Vriski dengan rasa hawatir, aku takut ayah kami akan
marah. Pasalnya ayah kami tidak pernah setuju kami keluar tanpa izin, beliau
selalu bilang dunia luar itu tidak sebaik apa yang kami pikirkan.
Vriski menarik
nafas panjang.
“Vris kamu
tenang aja, ayah nggak bakal marah kok!” dia menjawab seakan mengerti apa yang
aku rasakan. “Kita keluar kan buat nengok nenek, lagian di rumah nggak ada
siapa-siapa. Kamu jangan takut ya, nggak apa-apa kok.” Dia merangkul lalu
menyandarkan kepalaku di bahunya.
Entah mengapa
aku selalu merasa nyaman jika Vriski melakukan itu, dia bisa membuatku merasa
tenang. Walau dalam keadaan terburuk sekalipun, asalkan bersam Vriski aku
merasa aman. Pernah sekali ayah marah besar pada kami, seperti kali ini kami
waktu itu keluar tanpa sepengetahuan beliau. Aku waktu itu sangat panik, tapi
Vriski dengan lembut menenangkanku. Dia menghiburku, dan meyakinkanku bahwa
semuanya akan baik-baik saja. Sejak saat itu kami makin dekat, seperti tak ada
lagi pembatas di antara kami. Bahkan ketika aku punya masalah dengan pacarku,
aku berlari pada Vriski.
Dia selalu
menyediakan waktunya untuk mendengar keluhanku, tak peduli bagaimanapun
masalahnya dia selalu ada untukku. Suka dan duka selalu kubagi bersamanya, tak
ada apapun yang kusembunyikan dari Vriski.
Namun sekarang
semua telah berlalu, aku tidak bisa berlari pada Vriski lagi. Semenjak kejadian
waktu itu, aku dan Vriski dijauhkan oleh ayah. Dia dikirim ke luar negeri untuk
melanjutkan sekolahnya ke universitas, dan aku sengaja dititipkan pada nenek
agar tidak banyak keluar rumah.
Sekarang aku
menjalani hari dengan cara yang berbeda, tanpa Vriski. Hujan sudah berhenti,
tapi aku masih belum mau beranjak dari tempat ini. Kenanganku bersama Vriski
masih tergambar jelas dalam pandanganku, bagai mana kami tertawa, bercanda, dan
menangis bersama. Aku sungguh rindu masa-masa itu, masa dimana kami bersama.
“Vriski sini,
aku punya sesuatu buat kamu!”
“Apa?”
Aku
melambaikan tangan pada Vriski.
“Sini!”
Dia
menghampiriku.
“Apa? Aku udah
kesini.” Dia mengerutkan dahi sambil melipat tangannya didepan dada, “Ayo,
apa?”
“Sini aku
bisikin!” aku melingkarkan lenganku ke leher Vriski, kemudian mendekapnya.
“Selamat ulang tahun, semoga kamu bahagia selalu!”
Dia terkejut,
spontan tangannya mendekap tubuhku dengan erat. “Makasih, aku kira kamu nggak
inget ulang tahun aku. Makasih Vriska, makasih!” dia mengecup pipiku kemudian
mendekapku kembali.
“Udah,” aku
membuat jarak di antara kami, “Sekarang tutup mata kamu!”
Vriski
menyipitkan mata.
“Udah
cepetan!”
“iya” dia
tersenyum kemudian menutup matanya.
“jangan
ngintip ya!” aku menengadahkan kedua tanganku di depan Vriski, di atasnya
kuletakkan kado yang terbungkus kertas berwarna ungu kesukaanku. “Tara…
sekarang boleh buka mata!”
Vriski membuka
matanya.
Melihat kado
itu dia langsung menutup mulut dengan tangan, matanya terlihat berbinar.
Sedetik kemudian dia mendekapku “Vriska…”, air matanya menetes di pundakku
“Makasih, Makasih!”
Aku
benar-benar rindu saat itu, dan entah mengapa ketika aku mengingatnya air
mataku menetes dengan sendirinya. Aku serasa sangat kehilangan, Vriski adalah
orang special bagiku. Dia adalah kakak sekaligus sahabat terbaik dalam hidupku,
aku tak akan pernah melupakannya.
“Ya ampun”,
aku tersenyum.
Mungkin karena
rindu, aku serasa melihat Vriski di seberang jalan. Dia tersenyum melihatku,
dan melambaikan tangan. Saking rindunya, aku melihat dia sekarang berlari
kearahku.
Aku
menggelengkan kepala.
“Sepertinya
aku sudah hampir gila,” karena menghayalkan Vriski ada di hadapanku.
“Vriska!”
Haduh,
suaranya juga terdengar lagi. “Ini benar-benar gila.”
Sosok itu
sekarang telah berda di depanku.
“Vriska apa
kabar?” dia makin mendekat.
Aku hanya
terdiam.
“Vriska…” dia
memelukku.
Kenapa, kenapa
aku bisa merasakan dekapannya. Jika ini hanya halusinasi, kenapa aku bisa
merasakan dinginnya tetesan air di bahuku. Seketika itu tubuhku lemas, nafasku
serasa tersedak dan lidahku menjadi kelu. Aku sudah tak sanggup lagi berdiri,
namun dekapan tubuh itu menopangku agar tetap tegak di atas kedua kakiku.
“Kak Vriski,
apa ini benar kakak?” ragu-ragu aku mengelus punggung orang yang sedang
mendekapku.
Dia mengambil
jarak, kemudian memperhatikanku dengan seksama. Senyumnya melebar, “Iya Vriska,
ini kakak!”
Serasa tak
percaya, “Sungguh, ini kak Vriski?” tanyaku sembari mengucek mata dengan
tangan. “Ini sengguhan, apa ini bukan hayalan?”
Setelah aku membuka
mata, sosok itu masih berada di hadapanku. Dia terus memperhatikanku, matanya
berbinar memancarkan cahaya kerinduan. Senyumnya tipis namun menyentuh,
meluluhkan semua keraguan yang tadi hinggap di benakku. Yang di depanku
benar-benar Vriski, “Kakak…” ini benar-benar Vriski.
Tubuh itu merangkulku
kembali, mendekap badan hampa yang telah lama tak berjiwa. Menyentuh sampai ke
dasar nurani, membangunkan Vriska yang telah lama menanti. Sosok yang yang
selama ini menghilang, kini bersinar dalam kegelapan. Penerang yang dulu
hilang, kini kembali pulang.
asa dari hati yang ini mah,^^
BalasHapus