Sabtu, 07 Februari 2015

Prahara Hati 2



Sekarang jam menunjukan pukul sembilan tiga puluh, dan aku masih terus membuntuti si korban. Dia keluar masuk tempat hiburan, dan ini sudah yang ke lima kalinya.
Entah apa yang dicari, setelah lima menit di dalam  dia langsung keluar. Dan aku tidak melihat barang apapun yang dia bawa saat keluar dari tempat tersebut, aneh sekali kalau menurutku.
Namun tampaknya sekarang agak berbeda, lima menit sudah berlalu dan dia masih di dalam. Ini mungkin pertanda baik, atau bahkan sebaliknya. Yang jelas saatnya aku beraksi, akan kupecahkan masalahnya sekarang.

Agar tidak mencurigakan, aku harus ganti baju dulu. Kerudung, jaket, harus diganti. Tapi dimana kamar kecilnya, aku harus bergerak cepat.
Nah itu dia.

“Oke, sekarang sempurna.” Rok mini dengan atasan kaus tak berlengan dan rambut panjang ter-urai, ditambah high hill aku serasa artis Hollywood. “Tak apalah, hanya untuk malam ini saja.” Kataku mengukuhkan niat.

Segera aku masuk ke tempat tersebut.
Untung saja penjaga tidak memeriksaku, dia tidak curiga saat aku menyelinap diantara wanita-wanita tinggi dan cantik yang barusan lewat. Mungkin karena tubuhku yang tersamarkan oleh badan mereka, aku jadi beruntung.
Sekarang aku sudah di dalam.
Suasana disini sangat bising, alunan musik keras dan teriakan orang-orang yang sedang mabuk lampu disko berbaur menjadi satu. Kurasa akan sulit menemukan si Reno di tempat seperti ini, terlalu banyak orang.
Apa yang harus aku lakukan.

Berdiri di antara kerumunan gadis cantik dan pemuda-pemuda tampan membuatku jadi berbeda. Aku serasa berada di atas kapal yang sedang berlayar, diombang-ambing ombak dan bergoyang di lautan. Irama lampu dan alunan musik membuat tubuhku ingin bergerak, aku dibuat hampir menari.
Bagaimana ini, aku tak tahan.
Musik yang menghentak menggerakan kakiku kesana kemari, melangkah dan sesekali melonpat. Tubuhku tak mau diam, dia terasa gatal menerima alunan musik yang menggema. Aku bergerak, tanganku terangkat ke udara dan kepalaku menggeleng bersama puluhan orang lainnya. Aku terbawa, hasrat liarku lepas dan aku masuk dunia mereka.

Musik berhenti, aku baru bisa menghentikan tubuhku.
Apa yang terjadi, kenapa aku begini. Kenapa aku malah menari bersama mereka, bukankah tujuanku kesini untuk mencari informasi.
“Ya tuhan, apa yang aku lakukan.” Jeritku dalam hati.
Sesegera mungkin aku keluar dari tempat itu, tak kuhiraukan tugas yang belum kubereskan tadi. Kubiarkan misi kali ini terbengkalai, aku tak tahan menghadapi godaan tempat seperti itu. Pantas saja si Reno selalu keluar malam, rupanya tempat itu bisa membuat pengunjungnya lupa diri. Sungguh mengerikan.

Kulihat jam tanganku.
“Ya ampun, ini sudah pagi. Aku harus segera pulang…” Rasa panik menguasaiku.
Melihat jam menunjukan pukul empat pagi aku jadi panik, segera kunyalakan mesin motor dan menancap gas. Tak kupedulikan pakaianku yang masih belum kuganti, yang terpenting saat ini adalah pulang. Aku tak mau membuat ibu Kost marah, bisa panjang urusan jika hal itu terjadi.
Sesampainya di depan pintu, perasaanku jadi tidak enak. Semua lampu di tempat aku tinggal menyala, dan tak biasanya seperti itu.
Kulihat kembali jam tanganku.
“Jam empat tiga puluh, semoga saja si ibu belum bangun…” Pintaku dalam hati.
Aku membuka pintu dengan perlahan, aku tidak mau semua penghuni Kost-an terbangun hanya karena aku yang baru pulang. Kusenyapkan setiap langkah agar tidak ada yang mendengar, dan aku juga berharap tidak ada yang melihat kedatanganku.
Sesegera mungkin aku masuk ke dalam kamar, lalu kemudian aku menguncinya dari dalam. Aku tak mau ada yang memergokiku dengan pakaian seperti ini, ini sungguh memalukan. Mau ditaruh dimana mukaku jika ibu Kost dan keluarganya melihatku berpakaian seperti ini, bisa dikira perek nantinya.
Ih na’udzubillah deh…

Kuperhatikan diriku di cermin.
Dengan pakaian minim seperti ini, aku memang terlihat seksi. Tapi ada sesuatu yang hilang, wajahku tak terlihat manis lagi. Memang cantik, tapi tak seindah saat auratku tertutup.
Bahkan tak hanya itu, aku melihat paras indahku bagaikan gorengan yang dijual di warung. Tak semahal kue atau makanan yang ada di super market, mereka tertutup dan terjaga serta tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Berbeda dengan gorengan yang disentuh, dijamah, lalu dibiarkan jika tak sesuai selera. Yang hanya akan dipilih jika sudah tidak ada yang lain lagi, Aku merasa murahan.
Sungguh sakit rasanya jika membayangkan apa yang terjadi semalam, aku membiarkan orang-orang di tempat sialan itu menikmati indahanya tubuhku secara cuma-cuma. Mereka berdekatan, bersenggolan dan berdempetan denganku dengan leluasa. Dan aku membiarkannya begitu saja, sungguh memalukan.
Air mataku menetes.
“Tuhan, maafkan aku karena telah menurunkan derajatku sendiri. Maaf karena aku tidak bisa menjaga diriku dari godaan terkutuk itu, aku terlena…”

Allahu akbar allahu akbar…
Allahu akbar allahu akbar…

Kumandang adzan terdengar olehku.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, yang sudah terjadi tak mungkin bisa dirubah kembali. Biarkan semua berlalu, yang jelas sekarang bagaimana agar aku tidak mengulanginya lagi.
Sejujurnya aku merasa kecewa dengan diriku sendiri, “Jika aku belum kuat menghadapi godaan seperti semalam, seharusnya aku tidak memaksakan diri.” Renungku dalam hati, “Harusnya aku tidak sembrono dan bertindak gegabah, harusnya aku mengatur siasat dan tidak bertindak sendiri.”
Ini menyakitkan.

Teringat kejadian semalam, aku tak bersemangat untuk sarapan. Walaupun ibu Kost membujukku agar mau makan, aku merasa tidak lapar. Selera makanku menjadi hilang, perasaan hina dan jijik pada diri sendiri masih mengerubungiku. Aku merasa seperti wanita publik (istilah untuk wanita penghibur) yang menjajakan tubuhnya ke setiap orang, itu sungguh membuatku luka.
Bahkan saat bekendara pun aku masih memikirkan kejadian itu. Seperti sampah yang tak berharga, aku membiarkan tubuhku tersentuh oleh siapa saja. Memalukan, menyedihkan, tidak menyenangkan.

Sesampainya di sekolah perasaanku masih sakit.
Aku masih belum tenang, rasa kecewa masih menyelimuti tubuhku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika teman-temanku tahu mengenai hal ini, apa kata mereka.
Apakah mereka akan menghiburku, atau malah menjadikanku hiburan. Apa mereka akan menyemangatiku, atau menjadikanku semangat pemuas mereka. Akankah mereka peduli, atau malah mendzolimi.
“Ah… apa yang aku pikirkan, kenapa aku begini?” hatiku berontak, “Kenapa aku jadi loyo begini, kenapa tak bersemangat seperti biasanya. Mana Anzani yang tangguh, mana Anzani yang selalu tegar menghadapi apapun. Mana, mana?”
“Mana Anzani yang punya keyakinan teguh, mana dia. Mana yang punya keinginan hidup mandiri, mana yang tak mau membebani orang tua. Mana, mana Anzani?”
Hatiku terus berontak.
“Kemana sebenarnya Anzani Rara Mustika, mana dia yang tak pernah mengeluh menghadapi masalah. Mana, aku tanya mana?” perlahan emosiku bangkit.
“Aku boleh salah, karena aku manusia yang tak sempurna.” Pikirku, “Tak ada apapun yang tuhan berikan, kalau tidak seukuran dengan hambanya. Tak ada apapun yang tak termaafkan, selama kita memintanya.”
“Apakah aku harus bersedih, apakah aku harus terpuruk. Atau apakah aku…”
“Tidak, aku tidak bisa seperti itu. Aku bukan orang yang hanya pasrah menerima keadaan, aku masih bisa bangkit jika jatuh. Aku masih bisa berdiri saat tersungkur, dan aku masih bisa meminta maaf kalau salah. Kenapa aku seperti ini, apa yang aku pikirkan. Bukankah tuhan mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik, kenapa aku harus larut dalam kegalauan seperti ini?”
“Anzani, ayo bangkit. Yang semalam bukan hal yang terburuk, jika kalah hanya karena peristiwa seperti itu bagaimana bisa menghadapi hal yang lebih besar?”
“Iya, aku boleh sedih, tapi aku tidak bisa larut. Aku boleh kecewa, tapi aku tidak bisa selamanya. Aku harus bangkit, aku harus melangkah. Masalahku belum selesai, masalahku masih banyak…”

D.S.

Cukup!
Masalahku terlalu banyak jika harus ditambah dengan perasaan tak menyenangkan ini, dan aku tak bisa melakukan itu. Aku harus menyelesaikan misi, dan ingat Aku harus menyelesaikan sekolahku. Aku tak bisa larut dalam emosi berkepanjangan yang hanya membuatku tak melakukan apa-apa, intinya masalah harus diselesaikan bukan dipecahkan.
Aku harus menyelesaikannya.

Kubuat catatan kecil di buku saku, kucoba untuk membuat pola dari data yang berhasil kukumpulkan. Satu demi satu kejadian itu aku rangkai, tak lupa kutulis beberapa hal yang menurutku masih janggal. Ini mungkin biasa bagi kalian yang senang dengan masalah atau kasus, tapi bagiku ini tak semudah membalikan telapak tangan.

“Akhirnya, selesai juga.” Ujarku setelah deduksiku selesai.
“Apaan tuh Ra?”
“Astagfirullah, ya ampun…” aku berbalik, “Ah Quru, kirain siapa…” Kataku masih kaget.
“Emang kenapa,” dia tampak heran. “Kaget? Bukanya biasa kalau aku ngagetin kamu?”
“Enggak sih, cuma sedikit…”
“Apa?” nadanya terasa ketus.
“Udahlah terserah!” aku pun pergi meninggalkannya.
Dia benar-benar heran dan tak mengerti, entah apa yang ada dalam pikirannya (atau hanya pikiranku). Walaupun terbiasa dibentak olehku, tapi kali ini dia berbeda. Apa aku terlalu kasar, atau bagaimana?

Saat jam istirahat tiba, aku bergegas menemui Ikka dan Ibay. Aku harus memberitahu mereka rencana selanjutnya, waktu kami tinggal sedikit. Selain mereka berdua aku juga harus menemui Ahid dan Willy, mereka secara tidak langsung terlibat ke dalam masalah ini.

“Bay,” aku menemuinya di kantin. “Sini!” aku melambaikan tangan.
Dia menghampiriku.
“Apa teh? Ada perkembangan baru?” tanyanya tidak sabar.
“Iya, ini. Kamu baca terus lakukan apa intruksinya!” kataku sambil memberikan secarik kertas.
Aku buru-buru pergi setelah dia mengambil kertas itu, dan tak kudengarkan pertanyaan yang keluar dari mulutnya setelah itu.

Selanjutnya Ikka, dia ada di kelas.
“Maaf dek bisa panggilin Ikka,” kataku pada seorang siswi.
“Ikka?”
“Eh maksudnya Vriska!” ralatku padanya.
“Oh Vriska, iya teh sebentar…” dia masuk ke dalam kelas.
Sesaat kemudian dia keluar bersama Ikka.
“Ini teh!”
“Oh, makasih ya.”
“Sama-sama teh…” dia pergi meninggalkan kami setelah membawa Ikka padaku.
“Iya the ada apa?” Ikka langsung bertanya.
“Begini, ini masalah si Reno.” Kataku, “Kamu baca kertas ini, terus kamu lakuin apa yang tertulis disini!”
Tanpa banyak bertanya dia mengambil kertas itu dan membawanya.
Bagus, sekarang tinggal Ahid dan Willy. Namun sebelum itu aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu, ini sangat penting.

Begitu sibukkah aku sehingga tak kusadari bahwa Quru dari tadi melempari kepalaku dengan kertas. Atau aku memang tak menyadarinya, terlalu dingin atau memang lemot. Sudahlah, ini bukan masalah penting.
Aku berbalik.
“Apa?” kataku dengan volume rendah.
Dia menuliskan sesuatu di kertas, kemudian melemparnya padaku.
“Apa?” kataku lagi, masih dengan volume rendah.
“Baca!” jawabnya dengan volume tak kalah pelan.
Kupungut kertas itu dari lantai dan kubaca.

Untuk Rara yang cantik.
Maaf soal yang tadi, bukan maksud aku mau bikin kamu marah. Aku cuman penasaran aja, kenapa kamu banyak melamun seharian ini?
Apa kamu sakit? Atau kamu punya masalah?
Cerita dong sama aku, jangan diem begitu. aku jadi hawatir…
Tertanda, Quru.

Oh ini maksudnya.
Aku tersenyum membaca tulisan itu, sungguh aneh rasanya. Tak biasanya Quru perhatian seperti ini, dia kan selalu menggodaku. Kenapa dia mendadak jadi begini…
“Ah… apa sih…”
Cepat kuremas kertas tersebut dan kumasukan ke kolong meja, aku tak mau melihatnya lagi.
Namun sepertinya dia tidak mau menyerah, beberapa bola kertas meluncur membentur kepalaku sesaat kemudian.
“Apa lagi?” aku menoleh.
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri dan berbalik, kuhampiri dia yang sedang menggenggam kertas hendak melemparnya.
“Apa?” bentaku dengan nada tinggi.
Dia menggeleng.
“Ngomong!” aku jadi geram.
Dia masih menggeleng.
“Ayo ngomong!” aku memegang kerah bajunya, “Ngomong enggak?”
Dia menelan ludah.

“Ah… diem…”
Seseorang menepuk bahuku.
“Apa sih, diem ih…”
Dia masih terus menepuk bahuku. Aku berbalik.
“A…” tiba-tiba kalimatku terhenti. Itu bu guru.
Dengan mata tajam memandangku bagai elang, tangan kokoh mencengkeram penggaris kayu yang besar dan keras. Beliau berdiri di depanku penuh emosi, penuh kekuasaan dan wewenang. Mengerikan, tak ada lagi yang bisa kupastikan dari sosok ini selain amarah.
Dengan gerakan cepat matanya melirik kesamping, detik berikutnya mata itu memandangku kembali. Semua tahu, jika mata itu bergerak itu tandanya perintah. Beliau tadi melirik pintu kelas yang terbuka, itu artinya beliau menyuruhku menutup pintu. Dan tatapan yang kedua bermakna kekesalan, beliau ingin aku menutup pintu tadi dari luar.

D.S.

Ini menjengkelkan.
Aku adalah korban dalam kejadian ini, harusnya yang keluar itu Quru bukan aku. Kenapa semua seperti ini, tak adil. Dia kan yang melempar kertas-kertas itu, kenapa aku yang kena hukuman.
Batinku berdemo dalam pikiran, emosiku terus meluap-luap dalam hati. Kekesalan terhadap Quru membuatku bagaikan orang gila, marah-marah sendiri, mengamuk juga sendiri, kesal, kesal sendiri.

Namun itu tidak berlangsung lama, mataku keburu menangkap sesuatu. Sesuatu yang selama ini aku incar, yang menjadi inti dari permasalahan yang kuhadapi.
Ya, dia Reno.
“Mau kemana dia?” bisiku pelan.
Aku membuntutinya ke tempat parkir.
Dia sedang memindahkan sepeda motor, “Apa yang akan dia lakukan?” tanyaku dalam hati.
Setelah motor itu memasuki jalur yang mengarah ke pintu gerbang. dia menyalakan mesin dan…
“Ya ampun, dia mau…”

Terlambat, dia berhasil lolos dari sergapanku. Dia telah melewati gerbang sekolah, dan nampaknya dia tak kan kembali. Apa sebenarnya yang dia lakukan, jam belajar belum selesai. Kenapa dia keluar?
Masalahku bertubi-tubu, setelah diusir dari kelas incaranku pun raib entah kemana.

Otaku terus berpikir, runtutan kejadian hari ini bukan kebetulan. Entah mengapa, aku merasa semua kejadian ini berhubungan. Tapi bagaimana, apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya.
Aku percaya tuhan telah mengatur semuanya, tapi jika seperti ini apa yang bisa aku perbuat. Incaranku telah pergi, dan aku tidak mungkin kembali ke kelas. Apa, apa aku harus mengikutinya.
Apa aku harus kabur juga dari sekolah, kemudian mencari si Reno di tempat hiburan mlam seperti tadi malam.

Tak ada pilihan lain, aku segera memindahkan motorku ke jalur menuju gerbang. Akan kukejar targetku ini, dia harus memberikan penjelasan terhadap semua perbuatannya.
Setelah motorku masuk jalur, aku segera menyalakan mesin dan langsung tancap gas.

Kupacu motorku menuju tempat-tempat yang kudatangi semalam, aku yakin Reno tak akan pergi jauh selain ke tempat-tempat itu.

Selasa, 03 Februari 2015

Prahara Hati



Aku Rara, lengkapnya Anzani Rara Mustika. Lahir di Bandung bulan Desember delapan belas tahun lalu, aku sekarang duduk di bangku SMA kelas tiga semester akhir. Tiga bulan lagi aku hendak menjalani Ujian Nasional (disingkat UN), atau aku lebih senang menyebutnya Ular Naga.
Kenapa demikian, sederhana saja. UN terkadang menjadi sosok yang menakutkan bagi para siswa, tak terkecuali aku. Maka dari itu sebutan Ular Naga sangat cocok disandang oleh hal yang satu ini, selain itu juga rasa kekesalan yang kami (para siswa) rasakan dari dampak UN ini menambah kecocokan pada pemberian gelar tersebut.
Diluar dari itu, aku tidak tahu.
Oke, aku rasa cukup basa-basinya. Langsung saja ke inti masalah, aku harus buru-buru. Mungkin sekarang Ibay dan Ikka telah menungguku di ruang IT. Kami berencana untuk meresmikan grup kami siang ini, bukan apa-apa sih hanya sebuah komunitas kecil yang aku bentuk awal semester ini dengan Ibay dan kawan-kawan.
Awalnya hanya iseng saja, tapi lama kelamaan aku jadi menikmatinya. Aku tidak pernah menyangka bahwa dari sebuah sandiwara bisa berkembang jadi keakraban yang luar biasa, itu menurutku.
Dulu, aku hanya iseng ngobrol dengan mereka (sahabat Ibay). Namun karena sering bicara, aku lama-lama jadi dekat juga. Mereka ternyata orang yang menyenangkan, tak seperti perkiraanku pada awal bertemu. Mereka tampak jaim, canggung dan terkesan dingin.
Ya sudahlah, itu dulu. Sekarang lain lagi ceritanya, tak perlu diingat-ingat kembali.
Sekarang aku harus bergegas, Ibay dan Ikka sudah menungguku.

“Teteh!” tegur Ibay saat aku tiba di depan ruang IT. “Kemana aja, lama banget sih?”
“Sorry Bay,” jawabku sembari mengatur nafas. “Tadi aku beres-beres kelas dulu, kamu belum terlalu lama kan?”
“Belum apanya, aku nunggu di sini udah hampir satu jam loh…” katanya penuh kesal.
“Hehe…” aku tertawa malu, “Maaf, kan kelas tiga banyak tugas. Lagian kan aku piket dulu…” alih-alih datang terlambat.
“Emang teteh aja yang banyak tugas, aku juga sama kali. Apalagi aku kurikulum tiga belas, jelas tugas aku lebih numpuk.”
“Iya deh kamu menang, teteh kalah. Susah banget sih bikin kamu ngerti…”
“Ini bukan soal ngerti atau enggak, tapi ini soal disiplin.” Dia menceramahiku, “Kan teteh tahu, waktu itu ibarat pedang bermata dua. Kalau kita bisa memanfaatkannya, dia akan menjadi rekan baik. Tapi jika tidak, dia adalah musuh terberat…”
“Stop!” potongku, “Iya aku tahu, udah jangan dibahas lagi!” aku bosan mendengar ceramahnya.
“Ya udah, terserah teteh aja. Yang penting gak lupa kan sama rencana kita?”
“Enggak tenang aja, aku inget kok…”
“Ya udah ayo ikut!”
Kami berdua masuk kedalam ruang IT.

“Nah ini teh, Page Komunitas kita di FB!” dia menunjukan laman web buatannya.
“Cuma Facebook doang?” tanyaku.
“Enggak, aku juga bikin LinkID, Blog, Account Google sama Twitter.”
“Enggak lupa sama Tumblr, Line dan Skype kan?”
“Oh tenang aja, udah dibikinin kok… hehe…” dia tersenyum.
Aku menganggukan kepala.
“Bagus… sekarang tinggal masalah pertama.”
“Maksud teteh apa?”
“Iya, kan komunitas kita ini bergerak dibidang pemecahan kasus. Otomatis kita harus membuat catatan menarik mengenai sebuah permasalahan buat dishare di Blog dan sosial media kan?”
“Bener juga ya,” Ibay menggaruk kepala. “Tapi apa?”
“Untuk itu kita harus nyari tahu!”
Kami semua terdiam sejenak.
Aku mengalihkan fokus pada layar komputer di depanku, sementara Ibay keluar untuk mencari ide. Entah apa yang harus kami lakukan sekarang, semua yang kami butuhkan untuk mencari sumber sudah ada. Hanya tinggal satu lagi, masalahnya apa.

Sesaat kemudian Ibay datang bersama Ikka, mereka terlihat sangat emosi. Mereka duduk di sampingku dengan wajah cemberut. Apalagi Ikka, dia terlihat sangat jengkel.
Oh maaf, aku lupa mengenalkan. Ibay, nama aslinya Pratama. Tapi dia lebih sering dipanggil ibay, dia ini baru kelas satu. Kemudian Ikka, aslinya sih Vriska Aulia Azzahra. Tapi karena ibunya memanggil dia Ikka, aku jadi ketularan. Kalau teman-teman sebayanya, lebih sering memanggil dengan Vriska atau Aulia. Dia juga baru kelas satu, orangnya manja banget.

“Kalian kenapa?” tanyaku.
“Ini teh, tanya aja ke Vriska!” jawab Ibay.
“Ka, kamu kenapa?”
“Ih sebel deh teh.” Kata Ikka, “Si Reno tadi, ih…”
“Iya apa?”
“Tadi!” dia bergidik, “Ih… pokoknya mah.”
“Kalau ngomong yang jelas, aku enggak ngerti.”
“Gini ya teh,” ujarnya. “Tahu si Reno?”
Aku mengangguk.
“Dia, tadi ngasih liat aku Video yang begituan?”
“Maksud kamu…” aku membuat tanda petik di udara dengan jari, “Itu?”
“Iya, apa lagi?” matanya melotot. “Dia maksa aku buat nonton itu…”
“Terus kamu mau?”
“Enggak, aku bilang aku enggak mau. Tapi dia maksa terus.”
“Iya, terus kamu nonton?”
“Enggak!”
“Terus apa masalahnya?”
“Masalahnya dia enggak cuman sekali ngelakuin itu, hampir setiap pagi loh…”
“Hah…” aku tercengang. “Setiap hari?”
“Iya, dia nyodorin video kayak gitu setiap aku masuk kelas.”
“Kurang ajar banget sih,” aku mulai emosi. “Apa dia enggak punya malu.”
“Iya makanya, aku jadi kesel!”
“Harus dikasih pelajaran itu orang!”
“Bener!” Ikka mendukungku.
“Tunggu dulu!” Ibay menarik perhatianku. “Aku punya ide bagus!” katanya.
“Apa?” sahutku dengan emosi yang masih meninggi.
“Sabar dulu teh, kita harus tenang dulu!”
“Gimana bisa tenang, itu pelecehan namanya…”
“Iya, tapi denger dulu!” tegasnya, “Gini, kan kita lagi butuh masalah. Trus orang kayak si Reno pasti enggak bakal sembarangan ngelakuin hal kayak gitu tanpa sebab kan?”
“He-euh!”
“Nah, kita jadiin ini masalah pertama kita. Kita cari tahu kenapa dia bisa jadi kayak gitu, kan itu masalah?”
Aku berpikir.
“Iya juga ya, kita kan lagi butuh masalah.” Kataku.
“Trus juga, kita jadi dapat ilmu lebih kalau bisa tahu penyebab si Reno kayak gitu.”
“Bener, Aku setuju!”
“Nah, gitu. Iya kan Vriska?”
Vriska hanya diam, sepertinya dia tidak mengerti apa yang kami bicarakan.
“Aku enggak ngerti…” katanya.
“Gini ya, Ikka dengerin…”
Kujelaskan apa maksud dari pembicaraan kami pada Ikka, walaupun dengan bahasa yang agak rumit aku terus bercerita.

Setelah kami sepakat untuk menjadikan ini misi pertama, ayah Ikka datang untuk menjemput dia pulang. Sementara Ibay masih sibuk dengan komputernya aku segera pulang ke rumah, aku tidak mau menunggu lama untuk beraksi. Ini misi pertama, aku harus sukses.
Namun sebelum aku pulang, tidak sengaja aku bertemu dengan Ahid dan Willy. Mereka sedang asyik bermain panahan, ini kesempatan baik. Akan kubawa mereka dalam rencanaku, mereka bisa membantu mengumpulkan informasi tambahan.
“Hey Hid, Wil!” teriakku pada mereka.
“Hey Teh!” jawab Ahid.
Aku bergegas menghampiri mereka.
“Kalian lagi ngapain?” kataku membuka pembicaraan.
“Biasa lah teh, latihan. Anak muda…” dia bicara sambil memamerkan otot-otot kekarnya.
“Kamu juga Wil?”
“Iya teh!”
“Eh iya, teteh mau ngapain kesini?” Ahid bertanya.
“Enggak, aku mau pulang. Cuma pas lewat ngeliat kalian, jadi aku kesini.”
“Oh gitu…”
“Oh Hid, aku ada sesuatu nih…”
“Apa teh?” dia antusias.
“Aku tuh lagi punya masalah,” aku menjelaskan. “Tapi aku juga enggak tahu harus berbuat apa?”
“Emang apa masalahnya teh?” Willy menimpali.
“Denger dulu…” balasku, “Begini…” kujelaskan semua yang aku rencanakan pada Willy dan Ahid, dengan agak sedikit perubahan tentunya. “Gimana, ngerti?”
“Iya teh, itu gampang. Bisa diatur, kalem!” kata Ahid berbangga diri.
“Ya udah kalau gitu aku pergi dulu, sukses ya!”
“Oke sip, hati-hati ya teh…”
“Iya!”
Aku bergegas pergi meninggalkan mereka setelah maksudku tersampaikan, sekarang tinggal tunggu permainannya dimulai.

D.S.

Akhirnya aku di rumah juga, bukan rumah sendiri sih. Tapi tahu lah, kossan.
Aku sebenarnya bukan asli orang sini, aku berasal dari luar kota. Namun karena aku lulus tes masuk sekolah di sini, bisa dibilang sekolah unggulan. Ya mau tidak mau aku harus mengambilnya, biarpun harus jauh dari orang tua.
Itu bukan masalah, lagipula cita-citaku adalah tidak mau membebani orang tua. Aku ingin hidup mandiri, selain itu aku juga ingin membuktikan bahwa aku bisa berhasil walaupun jauh dari mereka. Sesuai dengan prinsipku, aku sendiri dan hanya sendiri.
Walaupun pada kenyataannya aku tidak sendiri, itu hanya kiasan belaka. Aslinya aku punya banyak teman dan sahabat, dan mereka selalu hadir di kehidupanku. Jadi, apakah aku sendiri. Sekali lagi, itu Cuma kiasan.
Oke, sampai dimana tadi.
Kossan, oke. Sekarang netbook sudah kunyalakan, kamar sudah kurapikan. Tinggal tidur, tapi tunggu dulu. Kita kan harus nyari data dulu, iya enggak.
Nah kalau begitu, ayo searching dulu.
Kata Ikka, si Reno suka nunjukin video Victoria Screet. Coba kita tulis, mbah google ayo cari…
Victoria Screet, oke klik!
Nah ini dia, ya ampun. Ini film begituan semua, apa gak salah?
Gak papa, bukan buat nyari dosa kok. Cuma info doang, jangan marah ya tuhan please…
Selanjutnya, Saritem. Oke, klik!
Ini…

Saritem
Saritem adalah sebuah lokalisasi yang terletak di kota Bandung, Jawa Barat. Lokalisasi ini terletak di dekat stasiun kereta. Tepatnya di antara jalan Astana Anyar dan Gardu Jati. Dari dulu berkali-kali diumumkan akan ditutup tapi tak pernah terjadi. Di depan jalan ini didirikan pesantren Dar Al Taubah, yang ironisnya menjadi pintu gerbang kompleks lokalisasi ini.
Saritem berdiri jauh sebelum kemerdekaan RI, dan konon didirikan sehubungan dengan pembuatan jalan kereta api di akhir abad 19.
Dengan adanya Perda Kota Bandung No. 11/1995, efektif mulai November 2006 semua kompleks lokalisasi akan mulai dihapuskan. Semua kegiatan lokalisasi Saritem akan diakhiri pada 17 April 2007 pukul 24.00, dan Saritem akan ditutup pada 18 April 2007 pukul 09.00 WIB.


Wah, ternyata bener. Si Reno kayaknya otaknya udah bermasalah, gak bisa dibiarin. Kasian Ikka, dia mesti cepat dibantu.

Keesokan paginya aku segera melesat ke rumah Ikka, aku ingin memberitahukan tentang apa yang aku temukan tadi malam. Aku ingin dia hati-hati, si Reno ini berbahaya.

“Ikkaaa…” panggilku dari luar. “Kamu ada enggak…?”
“Siapa?” seorang ibu menghampiriku, “Adek ini siapa ya?”
“Oh, saya teman Ikka bu. Kenalin, saya Rara…”
“Ikka, Ikka siapa ya?”
“Eh, maksud saya Vriska. Ada kan bu?”
“Oh, Vriska. Ada, masuk aja!”
“Ah enggak bu, disini aja. Enggak lama kok, makasih…”
“Ya udah, tunggu ya. Ibu panggil dulu, jangan kemana-mana!”
“Iya bu!”
Ya ampun, kaget aku. Kirain enggak ada siapa-siapa, ternyata ada mamanya Ikka. Untuk baik, kalau galak abis aku.
Beberapa saat aku menunggu, akhirnya Ikka menemuiku.
“Iya teh, ada apa?” tanyanya.
“Enggak, aku cuma mau ngasih tahu soal yang kemarin!”
“Yang mana teh?” dia heran menatapku.
“Yang kemarin, masa kamu lupa?”
“Yang mana?”
“Sini aku bisikin!”
Ikka mendekatkan kupingnya padaku.
“Reno…” aku berbisik di telinganya.
“OH SI ITU…”
“Pelanin suaranya!”
“Eh iya, maaf.” Dia tersenyum.
“Gak papa, yang jelas…” kujabarkan hasil temuanku semalam pada Ikka, aku berharap dia memahami apa yang kusampaikan. Semoga saja…
“Oke teh, aku ngerti!”
Bagus, dia ngerti. Enggak kayak kemarin, lola…
“Teteh pulang dulu ya, inget yang teteh bilang!”
“Iya teh, hati-hati ya…”
“Siip!”
Setelah aku yakin dia benar-benar mengerti, aku langsung tancap gas. Aku tak mau berlama-lama dirumahnya, aku masih punya urusan lain.

D.S.

Oke ini sudah waktunya.
Hari ini adalah investigasi kami yang pertama. Setelah kemarin aku menyusun rencana dengan Ikka, sekarang saatnya untuk mengintrogasi korban (lebih tepatnya sih sasaran).
“Ikka, kamu udah siap?”
“Seratus persen teh!” jawabnya penuh semangat.
“Sesuai rencana, kamu panggil dia supaya mau ngobrol sama kita!”
“Oke!” dia bergegas pergi memanggil korban.
Sesuai rencana, jebakan dipasang.

Saatnya aku berakting!
Itu mereka, “Ikka sini!” aku memanggil Ikka yang sedang bersama temannya.
“Hey teh, apa kabar?” dia menghampiriku bersama dua orang temannya.
“Baik,” jawabku. “Ini siapa?” aku melihat pada dua orang tersebut.
“Oh… ini temen. Yang ini Reno, dan yang ini Iwank.”
“Rara…”
“Reno.”
“Rara…”
“Iwank.”
“Eh iya duduk!”
“Iya teh.”
Mereka berdua duduk di depanku, sementara Ikka di sampingku.
“Ada apa teh?”
“Gini… Teteh mau bikin cerita, tapi teteh tu lagi butuh ide. Bisa bantu nggak?”
“Ide… kalau aku sih enggak, coba tanya mereka!” Ikka melihat kedua temannya. “Kalian punya ide enggak?”
“Ide buat apa?” tanya Iwank.
“Buat bikin cerita,” jawabku spontan. “Kan teteh mau nulis cerita, tapi teteh lagi butuh ide bagus. Kira-kira kalian bisa enggak bantu teteh?”
“Masalah ide sih kita juga bingung teh…” timbal Reno.
“Idenya apa aja boleh sih, yang penting rame!”
“Entar dulu, kalo percintaan?”
“Itu udah umum, gak aneh lagi…”
“Apa ya?” Iwank mengusap kepalanya.
“Gimana kalau masalah remaja?” Ikka menawarkan pendapat.
“Bagus tuh, tapi apa?”
“Gini aja, siapa di sini yang lagi banyak masalah?”
“Hah… Itu sih Reno, iya nggak?” Iwank menyenggol tangan Reno.
“Apaan sih?”
“Kamu lagi banyak masalah kan?”
“Iya trus?” jawabnya ketus.
“Gimana kalau kamu yamg teteh jadiin ceritanya?”
“Maksudnya?” Reno terlihat gusar.
“Iya, kamu jadi pemeran utama!”
“Wah bagus itu,” Ikka mendukung argumenku. “Ren, kalau kamu jadi pemeran utama kamu pasti terkenal.”
“Wah gitu ya?” Reno menyipitkan mata tanda heran.
“Bener juga sih Ren,” Iwank ikut menimpali. “Kalau kamu jadi tokoh utama, otomatis kamu jadi populer!”
“Dan juga kamu jadi artis dadakan!” aku menambahkan.
Reno terlihat bimbang.
Bagus, rencanaku berjalan sempurna. Sebentar lagi Reno masuk perangkap, dia akan menjadi mangsa yang empuk dalam permainan ini.
“Tapi apa benar?” Reno tampak bingung.
“Ih bener Ren, aku juga dulu gitu.” Ikka meyakinkan, “Aku dibikinin cerita sama si teteh, trus aku jadi bintang deh di internet!”
“Tuh kan Ren, kamu bakal terkenal.” Iwang membujuk Reno.
Reno berpikir.
“Ya udah deh aku mau!”
“Serius ya!” aku menegaskan.
“Iya!”
Akhirnya, dia masuk perangkap.
Selanjutnya tinggal mengorek informasi sebanyak-banyaknya, aku harus menemukan penyebab dia melakukan hal tak beretika seperti itu.

“Oke, kamu siap ya. Ini enggak akan lama kok, teteh cuma butuh data kamu sedikit.”
“Iya teh!” reno menjawab.
Sekarang aku ada di kelas Reno, kami hanya berdua. Disini kami lebih leluasa untuk bicara, aku pun tidak akan ragu untuk mengorek informasi dari dia secara menyeluruh.
“Pertama, nama?”
“Reno Aditya.”
“Kelamin?”
“Laki-laki.”
“Agama?”
“Islam.”
“Bagus, pertanyaan berikutnya. Hobi?”
“Hangout bareng teman.”
“Kemana aja hangoutnya?”
“Banyak, soalnya sama teman.”
“Oke, hal apa yang paling berkesan dalam hidup kamu?”
“Itu…”
Dia menjawab setiap pertanyaanku dengan jujur, aku senang semua berjalan sesuai rencana.
Dan aku percaya bahwa aku akan mendapatkan informasi lebih mengenai orang ini, aku yakin itu.

Semua pertanyaan telah aku ajukan, dan dia menjawab setiap pertanyaan itu dengan terus terang. Aku senang karena aku sudah mengetahui semua tentang Reno, latar belakang, kehidupannya, dan bahkan semua hal buruk yang pernah ia lakukan, sekarang aku tahu.
Hanya tinggal satu lagi, menemukan penyebab dia menjadi seorang yang berlainan dengan orang lain.

D.S.

Ini tugas akhir, aku harus bergerak sendiri.
Aku akan mengikuti kemana si Reno ini pergi setiap malam, menurut pengakuannya dia selalu keluar pada malam hari. Entah apa yang ia cari, aku tetap harus menuntaskan rasa penasaranku ini.
Nah itu dia, aku harus pergi.