Minggu, 01 Februari 2015

TAK TERLUPA 2


Hawa dingin mulai menjalar, debu beterbangan memenuhi udara kota intan. Angin berhembus menerpa butiran-butiran hujan yang membasahi tanah Limbangan, kilat berlompatan diiringi suara guntur yang menggelegar. Kota pun berubah, dari yang semula ramai kini menjadi sepi tak berarti. Bagaikan kota mati, dalam guyuran hujan yang menjadi tak nampak kehidupan sama sekali.
Sama seperti waktu itu, aku berdiri menatap hujan dan terpaku pada keheningan alam bawah sadar. Di bawah sebuah pohon depan masjid agung aku berdiri, menanti dalam sepi. Derasnya masa lalu yang ikut menetes bersama guyuran hujan tampak jelas di mataku, mengalirkan kenangan-kenangan yang tak pernah kulupa.
Ya, kenangan masa lalu yang selalu hidup dalam diriku. Yang muncul setiap kali hujan turun dan mereda ketika hujan berhenti, dan selalu berhasil memahat sebuah senyum di wajah yang terluka.
Seperti saat ini, waktu itu hujan deras juga membasahi tanah Limbangan. Bau tanah menyeruak memenuhi udara, dan hawa dingin menyelimuti setiap sudut kota. Tak ada siapapun di depan rumah, mereka semua sembunyi di balik kehangatan dan kenyamanan perapian. Tak seorangpun berada di luar, hanya aku dan Vriski yang waktu itu ada di jalan.
Kami memang baru di kota ini, dan kami tidak mengenal siapapun kecuali nenek yang memang menjadi tujuan kami kesini. Ditemani halilintar yang menggelegar, kami menyusuri setiap lorong di Limbangan. Tak nampak ada kehidupan, selain para tikus yang lari terbirit-birit saat kami melewati sarang mereka.
Sungguh ironi, di balik wajah megah kota intan masih terselip celah busuk penuh kotoran. Yang dari kejauhan penuh dengan keagungan dan memikat siapapun agar datang mencoba peraduan, Kota yang menampakkan segala kemewahan serta menjanjikan kenyamanan. Ternyata tak sanggup untuk menyembunyikan segalanya, banyak sekali tempat jorok yang luput dari pemberitaan namun masih tetap dipertahankan.
Berbeda dengan Jakarta yang bermain terang-terangan, kota ini justru menghindari sorotan untuk tempat seperti itu. Seperti yang kukatakan, jarang sekali aku mendengar sosok terbelakang kota intan. Yang kutahu dari kota ini hanya ketenangan, keleluasaan, dan keindahan. Tak ada kabar miris menyinggung kota ini, sampai akhirnya aku menyaksikannya sendiri. Wajah lain dari Limbangan, yang tak sanggup lagi disembunyikan.
“Vriska, kamu nggak apa-apa?”
Aku tersenyum.
“Nggak kok, aku nggak apa-apa?”
“Kita istirahat di bawah pohon itu aja ya, nunggu hujan berhenti. Baju kamu udah basah!” Vriski menarik tanganku dan  membawaku berlari ke bawah pohon besar dipinggir jalan. “Ayo duduk! Kita tunggu ujan berhenti, abis itu baru kita lanjut lagi.” Dia menatap hujan dengan dalam, kemudian dia menundukkan kepalanya melihat pada sepatunya yang basah terkena hujan. Senyum tipis terukir di wajahnya saat dia memandang bayangannya yang terpantul di genangan air, sangat tenang bagaikan langit cerah yang bersembunyi di balik derasnya hujan.
“Kak, apa benar nggak apa-apa kita kabur dari rumah kayak gini? Apa nggak bakal ada yang nyari?” aku memandang Vriski dengan rasa hawatir, aku takut ayah kami akan marah. Pasalnya ayah kami tidak pernah setuju kami keluar tanpa izin, beliau selalu bilang dunia luar itu tidak sebaik apa yang kami pikirkan.
Vriski menarik nafas panjang.
“Vris kamu tenang aja, ayah nggak bakal marah kok!” dia menjawab seakan mengerti apa yang aku rasakan. “Kita keluar kan buat nengok nenek, lagian di rumah nggak ada siapa-siapa. Kamu jangan takut ya, nggak apa-apa kok.” Dia merangkul lalu menyandarkan kepalaku di bahunya.
Entah mengapa aku selalu merasa nyaman jika Vriski melakukan itu, dia bisa membuatku merasa tenang. Walau dalam keadaan terburuk sekalipun, asalkan bersam Vriski aku merasa aman. Pernah sekali ayah marah besar pada kami, seperti kali ini kami waktu itu keluar tanpa sepengetahuan beliau. Aku waktu itu sangat panik, tapi Vriski dengan lembut menenangkanku. Dia menghiburku, dan meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sejak saat itu kami makin dekat, seperti tak ada lagi pembatas di antara kami. Bahkan ketika aku punya masalah dengan pacarku, aku berlari pada Vriski.
Dia selalu menyediakan waktunya untuk mendengar keluhanku, tak peduli bagaimanapun masalahnya dia selalu ada untukku. Suka dan duka selalu kubagi bersamanya, tak ada apapun yang kusembunyikan dari Vriski.
Namun sekarang semua telah berlalu, aku tidak bisa berlari pada Vriski lagi. Semenjak kejadian waktu itu, aku dan Vriski dijauhkan oleh ayah. Dia dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya ke universitas, dan aku sengaja dititipkan pada nenek agar tidak banyak keluar rumah.
Sekarang aku menjalani hari dengan cara yang berbeda, tanpa Vriski. Hujan sudah berhenti, tapi aku masih belum mau beranjak dari tempat ini. Kenanganku bersama Vriski masih tergambar jelas dalam pandanganku, bagai mana kami tertawa, bercanda, dan menangis bersama. Aku sungguh rindu masa-masa itu, masa dimana kami bersama.
“Vriski sini, aku punya sesuatu buat kamu!”
“Apa?”
Aku melambaikan tangan pada Vriski.
“Sini!”
Dia menghampiriku.
“Apa? Aku udah kesini.” Dia mengerutkan dahi sambil melipat tangannya didepan dada, “Ayo, apa?”
“Sini aku bisikin!” aku melingkarkan lenganku ke leher Vriski, kemudian mendekapnya. “Selamat ulang tahun, semoga kamu bahagia selalu!”
Dia terkejut, spontan tangannya mendekap tubuhku dengan erat. “Makasih, aku kira kamu nggak inget ulang tahun aku. Makasih Vriska, makasih!” dia mengecup pipiku kemudian mendekapku kembali.
“Udah,” aku membuat jarak di antara kami, “Sekarang tutup mata kamu!”
Vriski menyipitkan mata.
“Udah cepetan!”
“iya” dia tersenyum kemudian menutup matanya.
“jangan ngintip ya!” aku menengadahkan kedua tanganku di depan Vriski, di atasnya kuletakkan kado yang terbungkus kertas berwarna ungu kesukaanku. “Tara… sekarang boleh buka mata!”
Vriski membuka matanya.
Melihat kado itu dia langsung menutup mulut dengan tangan, matanya terlihat berbinar. Sedetik kemudian dia mendekapku “Vriska…”, air matanya menetes di pundakku “Makasih, Makasih!”
Aku benar-benar rindu saat itu, dan entah mengapa ketika aku mengingatnya air mataku menetes dengan sendirinya. Aku serasa sangat kehilangan, Vriski adalah orang special bagiku. Dia adalah kakak sekaligus sahabat terbaik dalam hidupku, aku tak akan pernah melupakannya.
“Ya ampun”, aku tersenyum.
Mungkin karena rindu, aku serasa melihat Vriski di seberang jalan. Dia tersenyum melihatku, dan melambaikan tangan. Saking rindunya, aku melihat dia sekarang berlari kearahku.
Aku menggelengkan kepala.
“Sepertinya aku sudah hampir gila,” karena menghayalkan Vriski ada di hadapanku.
“Vriska!”
Haduh, suaranya juga terdengar lagi. “Ini benar-benar gila.”
Sosok itu sekarang telah berda di depanku.
“Vriska apa kabar?” dia makin mendekat.
Aku hanya terdiam.
“Vriska…” dia memelukku.
Kenapa, kenapa aku bisa merasakan dekapannya. Jika ini hanya halusinasi, kenapa aku bisa merasakan dinginnya tetesan air di bahuku. Seketika itu tubuhku lemas, nafasku serasa tersedak dan lidahku menjadi kelu. Aku sudah tak sanggup lagi berdiri, namun dekapan tubuh itu menopangku agar tetap tegak di atas kedua kakiku.
“Kak Vriski, apa ini benar kakak?” ragu-ragu aku mengelus punggung orang yang sedang mendekapku.
Dia mengambil jarak, kemudian memperhatikanku dengan seksama. Senyumnya melebar, “Iya Vriska, ini kakak!”
Serasa tak percaya, “Sungguh, ini kak Vriski?” tanyaku sembari mengucek mata dengan tangan. “Ini sengguhan, apa ini bukan hayalan?”
Setelah aku membuka mata, sosok itu masih berada di hadapanku. Dia terus memperhatikanku, matanya berbinar memancarkan cahaya kerinduan. Senyumnya tipis namun menyentuh, meluluhkan semua keraguan yang tadi hinggap di benakku. Yang di depanku benar-benar Vriski, “Kakak…” ini benar-benar Vriski.
Tubuh itu merangkulku kembali, mendekap badan hampa yang telah lama tak berjiwa. Menyentuh sampai ke dasar nurani, membangunkan Vriska yang telah lama menanti. Sosok yang yang selama ini menghilang, kini bersinar dalam kegelapan. Penerang yang dulu hilang, kini kembali pulang.
“Iya, ini Kakak!”

1 komentar: