Sekarang jam menunjukan pukul sembilan tiga puluh,
dan aku masih terus membuntuti si korban. Dia keluar masuk tempat hiburan, dan
ini sudah yang ke lima kalinya.
Entah apa yang dicari, setelah lima menit di
dalam dia langsung keluar. Dan aku tidak
melihat barang apapun yang dia bawa saat keluar dari tempat tersebut, aneh
sekali kalau menurutku.
Namun tampaknya sekarang agak berbeda, lima menit
sudah berlalu dan dia masih di dalam. Ini mungkin pertanda baik, atau bahkan
sebaliknya. Yang jelas saatnya aku beraksi, akan kupecahkan masalahnya
sekarang.
Agar tidak mencurigakan, aku harus ganti baju dulu.
Kerudung, jaket, harus diganti. Tapi dimana kamar kecilnya, aku harus bergerak
cepat.
Nah itu dia.
“Oke, sekarang sempurna.” Rok mini dengan atasan
kaus tak berlengan dan rambut panjang ter-urai, ditambah high hill aku serasa artis Hollywood. “Tak apalah, hanya untuk
malam ini saja.” Kataku mengukuhkan niat.
Segera aku masuk ke tempat tersebut.
Untung saja penjaga tidak memeriksaku, dia tidak
curiga saat aku menyelinap diantara wanita-wanita tinggi dan cantik yang
barusan lewat. Mungkin karena tubuhku yang tersamarkan oleh badan mereka, aku
jadi beruntung.
Sekarang aku sudah di dalam.
Suasana disini sangat bising, alunan musik keras dan
teriakan orang-orang yang sedang mabuk lampu disko berbaur menjadi satu. Kurasa
akan sulit menemukan si Reno di tempat seperti ini, terlalu banyak orang.
Apa yang harus aku lakukan.
Berdiri di antara kerumunan gadis cantik dan pemuda-pemuda
tampan membuatku jadi berbeda. Aku serasa berada di atas kapal yang sedang
berlayar, diombang-ambing ombak dan bergoyang di lautan. Irama lampu dan alunan
musik membuat tubuhku ingin bergerak, aku dibuat hampir menari.
Bagaimana ini, aku tak tahan.
Musik yang menghentak menggerakan kakiku kesana
kemari, melangkah dan sesekali melonpat. Tubuhku tak mau diam, dia terasa gatal
menerima alunan musik yang menggema. Aku bergerak, tanganku terangkat ke udara
dan kepalaku menggeleng bersama puluhan orang lainnya. Aku terbawa, hasrat
liarku lepas dan aku masuk dunia mereka.
Musik berhenti, aku baru bisa menghentikan tubuhku.
Apa yang terjadi, kenapa aku begini. Kenapa aku
malah menari bersama mereka, bukankah tujuanku kesini untuk mencari informasi.
“Ya tuhan, apa yang aku lakukan.” Jeritku dalam
hati.
Sesegera mungkin aku keluar dari tempat itu, tak
kuhiraukan tugas yang belum kubereskan tadi. Kubiarkan misi kali ini
terbengkalai, aku tak tahan menghadapi godaan tempat seperti itu. Pantas saja
si Reno selalu keluar malam, rupanya tempat itu bisa membuat pengunjungnya lupa
diri. Sungguh mengerikan.
Kulihat jam tanganku.
“Ya ampun, ini sudah pagi. Aku harus segera pulang…”
Rasa panik menguasaiku.
Melihat jam menunjukan pukul empat pagi aku jadi
panik, segera kunyalakan mesin motor dan menancap gas. Tak kupedulikan
pakaianku yang masih belum kuganti, yang terpenting saat ini adalah pulang. Aku
tak mau membuat ibu Kost marah, bisa panjang urusan jika hal itu terjadi.
Sesampainya di depan pintu, perasaanku jadi tidak
enak. Semua lampu di tempat aku tinggal menyala, dan tak biasanya seperti itu.
Kulihat kembali jam tanganku.
“Jam empat tiga puluh, semoga saja si ibu belum
bangun…” Pintaku dalam hati.
Aku membuka pintu dengan perlahan, aku tidak mau
semua penghuni Kost-an terbangun hanya karena aku yang baru pulang. Kusenyapkan
setiap langkah agar tidak ada yang mendengar, dan aku juga berharap tidak ada
yang melihat kedatanganku.
Sesegera mungkin aku masuk ke dalam kamar, lalu
kemudian aku menguncinya dari dalam. Aku tak mau ada yang memergokiku dengan
pakaian seperti ini, ini sungguh memalukan. Mau ditaruh dimana mukaku jika ibu Kost
dan keluarganya melihatku berpakaian seperti ini, bisa dikira perek nantinya.
Ih na’udzubillah deh…
Kuperhatikan diriku di cermin.
Dengan pakaian minim seperti ini, aku memang
terlihat seksi. Tapi ada sesuatu yang hilang, wajahku tak terlihat manis lagi.
Memang cantik, tapi tak seindah saat auratku tertutup.
Bahkan tak hanya itu, aku melihat paras indahku
bagaikan gorengan yang dijual di warung. Tak semahal kue atau makanan yang ada
di super market, mereka tertutup dan terjaga serta tidak sembarang orang bisa
menyentuhnya. Berbeda dengan gorengan yang disentuh, dijamah, lalu dibiarkan
jika tak sesuai selera. Yang hanya akan dipilih jika sudah tidak ada yang lain
lagi, Aku merasa murahan.
Sungguh sakit rasanya jika membayangkan apa yang
terjadi semalam, aku membiarkan orang-orang di tempat sialan itu menikmati
indahanya tubuhku secara cuma-cuma. Mereka berdekatan, bersenggolan dan
berdempetan denganku dengan leluasa. Dan aku membiarkannya begitu saja, sungguh
memalukan.
Air mataku menetes.
“Tuhan, maafkan aku karena telah menurunkan
derajatku sendiri. Maaf karena aku tidak bisa menjaga diriku dari godaan
terkutuk itu, aku terlena…”
Allahu akbar
allahu akbar…
Allahu akbar
allahu akbar…
Kumandang adzan terdengar olehku.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri,
yang sudah terjadi tak mungkin bisa dirubah kembali. Biarkan semua berlalu,
yang jelas sekarang bagaimana agar aku tidak mengulanginya lagi.
Sejujurnya aku merasa kecewa dengan diriku sendiri,
“Jika aku belum kuat menghadapi godaan seperti semalam, seharusnya aku tidak
memaksakan diri.” Renungku dalam hati, “Harusnya aku tidak sembrono dan
bertindak gegabah, harusnya aku mengatur siasat dan tidak bertindak sendiri.”
Ini menyakitkan.
Teringat kejadian semalam, aku tak bersemangat untuk
sarapan. Walaupun ibu Kost membujukku agar mau makan, aku merasa tidak lapar. Selera
makanku menjadi hilang, perasaan hina dan jijik pada diri sendiri masih
mengerubungiku. Aku merasa seperti wanita
publik (istilah untuk wanita penghibur) yang menjajakan tubuhnya ke setiap
orang, itu sungguh membuatku luka.
Bahkan saat bekendara pun aku masih memikirkan
kejadian itu. Seperti sampah yang tak berharga, aku membiarkan tubuhku
tersentuh oleh siapa saja. Memalukan, menyedihkan, tidak menyenangkan.
Sesampainya di sekolah perasaanku masih sakit.
Aku masih belum tenang, rasa kecewa masih
menyelimuti tubuhku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika teman-temanku
tahu mengenai hal ini, apa kata mereka.
Apakah mereka akan menghiburku, atau malah
menjadikanku hiburan. Apa mereka akan menyemangatiku, atau menjadikanku
semangat pemuas mereka. Akankah mereka peduli, atau malah mendzolimi.
“Ah… apa yang aku pikirkan, kenapa aku begini?”
hatiku berontak, “Kenapa aku jadi loyo begini, kenapa tak bersemangat seperti
biasanya. Mana Anzani yang tangguh, mana Anzani yang selalu tegar menghadapi
apapun. Mana, mana?”
“Mana Anzani yang punya keyakinan teguh, mana dia.
Mana yang punya keinginan hidup mandiri, mana yang tak mau membebani orang tua.
Mana, mana Anzani?”
Hatiku terus berontak.
“Kemana sebenarnya Anzani Rara Mustika, mana dia
yang tak pernah mengeluh menghadapi masalah. Mana, aku tanya mana?” perlahan
emosiku bangkit.
“Aku boleh salah, karena aku manusia yang tak
sempurna.” Pikirku, “Tak ada apapun yang tuhan berikan, kalau tidak seukuran
dengan hambanya. Tak ada apapun yang tak termaafkan, selama kita memintanya.”
“Apakah aku harus bersedih, apakah aku harus
terpuruk. Atau apakah aku…”
“Tidak, aku tidak bisa seperti itu. Aku bukan orang
yang hanya pasrah menerima keadaan, aku masih bisa bangkit jika jatuh. Aku
masih bisa berdiri saat tersungkur, dan aku masih bisa meminta maaf kalau
salah. Kenapa aku seperti ini, apa yang aku pikirkan. Bukankah tuhan mengampuni
semua dosa kecuali dosa syirik, kenapa aku harus larut dalam kegalauan seperti
ini?”
“Anzani, ayo bangkit. Yang semalam bukan hal yang
terburuk, jika kalah hanya karena peristiwa seperti itu bagaimana bisa
menghadapi hal yang lebih besar?”
“Iya, aku boleh sedih, tapi aku tidak bisa larut.
Aku boleh kecewa, tapi aku tidak bisa selamanya. Aku harus bangkit, aku harus
melangkah. Masalahku belum selesai, masalahku masih banyak…”
D.S.
Cukup!
Masalahku terlalu banyak jika harus ditambah dengan
perasaan tak menyenangkan ini, dan aku tak bisa melakukan itu. Aku harus
menyelesaikan misi, dan ingat Aku harus menyelesaikan sekolahku. Aku tak bisa
larut dalam emosi berkepanjangan yang hanya membuatku tak melakukan apa-apa,
intinya masalah harus diselesaikan bukan dipecahkan.
Aku harus menyelesaikannya.
Kubuat catatan kecil di buku saku, kucoba untuk
membuat pola dari data yang berhasil kukumpulkan. Satu demi satu kejadian itu
aku rangkai, tak lupa kutulis beberapa hal yang menurutku masih janggal. Ini
mungkin biasa bagi kalian yang senang dengan masalah atau kasus, tapi bagiku
ini tak semudah membalikan telapak tangan.
“Akhirnya, selesai juga.” Ujarku setelah deduksiku
selesai.
“Apaan tuh Ra?”
“Astagfirullah, ya ampun…” aku berbalik, “Ah Quru,
kirain siapa…” Kataku masih kaget.
“Emang kenapa,” dia tampak heran. “Kaget? Bukanya biasa
kalau aku ngagetin kamu?”
“Enggak sih, cuma sedikit…”
“Apa?” nadanya terasa ketus.
“Udahlah terserah!” aku pun pergi meninggalkannya.
Dia benar-benar heran dan tak mengerti, entah apa
yang ada dalam pikirannya (atau hanya pikiranku). Walaupun terbiasa dibentak
olehku, tapi kali ini dia berbeda. Apa aku terlalu kasar, atau bagaimana?
Saat jam istirahat tiba, aku bergegas menemui Ikka
dan Ibay. Aku harus memberitahu mereka rencana selanjutnya, waktu kami tinggal
sedikit. Selain mereka berdua aku juga harus menemui Ahid dan Willy, mereka secara
tidak langsung terlibat ke dalam masalah ini.
“Bay,” aku menemuinya di kantin. “Sini!” aku
melambaikan tangan.
Dia menghampiriku.
“Apa teh? Ada perkembangan baru?” tanyanya tidak
sabar.
“Iya, ini. Kamu baca terus lakukan apa intruksinya!”
kataku sambil memberikan secarik kertas.
Aku buru-buru pergi setelah dia mengambil kertas
itu, dan tak kudengarkan pertanyaan yang keluar dari mulutnya setelah itu.
Selanjutnya Ikka, dia ada di kelas.
“Maaf dek bisa panggilin Ikka,” kataku pada seorang
siswi.
“Ikka?”
“Eh maksudnya Vriska!” ralatku padanya.
“Oh Vriska, iya teh sebentar…” dia masuk ke dalam
kelas.
Sesaat kemudian dia keluar bersama Ikka.
“Ini teh!”
“Oh, makasih ya.”
“Sama-sama teh…” dia pergi meninggalkan kami setelah
membawa Ikka padaku.
“Iya the ada apa?” Ikka langsung bertanya.
“Begini, ini masalah si Reno.” Kataku, “Kamu baca
kertas ini, terus kamu lakuin apa yang tertulis disini!”
Tanpa banyak bertanya dia mengambil kertas itu dan
membawanya.
Bagus, sekarang tinggal Ahid dan Willy. Namun
sebelum itu aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu, ini sangat penting.
Begitu sibukkah aku sehingga tak kusadari bahwa Quru
dari tadi melempari kepalaku dengan kertas. Atau aku memang tak menyadarinya,
terlalu dingin atau memang lemot. Sudahlah, ini bukan masalah penting.
Aku berbalik.
“Apa?” kataku dengan volume rendah.
Dia menuliskan sesuatu di kertas, kemudian
melemparnya padaku.
“Apa?” kataku lagi, masih dengan volume rendah.
“Baca!” jawabnya dengan volume tak kalah pelan.
Kupungut kertas itu dari lantai dan kubaca.
Untuk Rara yang
cantik.
Maaf soal yang
tadi, bukan maksud aku mau bikin kamu marah. Aku cuman penasaran aja, kenapa
kamu banyak melamun seharian ini?
Apa kamu sakit?
Atau kamu punya masalah?
Cerita dong sama
aku, jangan diem begitu. aku jadi hawatir…
Tertanda, Quru.
Oh ini maksudnya.
Aku tersenyum membaca tulisan itu, sungguh aneh
rasanya. Tak biasanya Quru perhatian seperti ini, dia kan selalu menggodaku.
Kenapa dia mendadak jadi begini…
“Ah… apa sih…”
Cepat kuremas kertas tersebut dan kumasukan ke
kolong meja, aku tak mau melihatnya lagi.
Namun sepertinya dia tidak mau menyerah, beberapa
bola kertas meluncur membentur kepalaku sesaat kemudian.
“Apa lagi?” aku menoleh.
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri dan berbalik, kuhampiri dia yang sedang
menggenggam kertas hendak melemparnya.
“Apa?” bentaku dengan nada tinggi.
Dia menggeleng.
“Ngomong!” aku jadi geram.
Dia masih menggeleng.
“Ayo ngomong!” aku memegang kerah bajunya, “Ngomong
enggak?”
Dia menelan ludah.
“Ah… diem…”
Seseorang menepuk bahuku.
“Apa sih, diem ih…”
Dia masih terus menepuk bahuku. Aku berbalik.
“A…” tiba-tiba kalimatku terhenti. Itu bu guru.
Dengan mata tajam memandangku bagai elang, tangan
kokoh mencengkeram penggaris kayu yang besar dan keras. Beliau berdiri di
depanku penuh emosi, penuh kekuasaan dan wewenang. Mengerikan, tak ada lagi
yang bisa kupastikan dari sosok ini selain amarah.
Dengan gerakan cepat matanya melirik kesamping,
detik berikutnya mata itu memandangku kembali. Semua tahu, jika mata itu
bergerak itu tandanya perintah. Beliau tadi melirik pintu kelas yang terbuka,
itu artinya beliau menyuruhku menutup pintu. Dan tatapan yang kedua bermakna
kekesalan, beliau ingin aku menutup pintu tadi dari luar.
D.S.
Ini menjengkelkan.
Aku adalah korban dalam kejadian ini, harusnya yang
keluar itu Quru bukan aku. Kenapa semua seperti ini, tak adil. Dia kan yang
melempar kertas-kertas itu, kenapa aku yang kena hukuman.
Batinku berdemo dalam pikiran, emosiku terus
meluap-luap dalam hati. Kekesalan terhadap Quru membuatku bagaikan orang gila,
marah-marah sendiri, mengamuk juga sendiri, kesal, kesal sendiri.
Namun itu tidak berlangsung lama, mataku keburu
menangkap sesuatu. Sesuatu yang selama ini aku incar, yang menjadi inti dari
permasalahan yang kuhadapi.
Ya, dia Reno.
“Mau kemana dia?” bisiku pelan.
Aku membuntutinya ke tempat parkir.
Dia sedang memindahkan sepeda motor, “Apa yang akan
dia lakukan?” tanyaku dalam hati.
Setelah motor itu memasuki jalur yang mengarah ke
pintu gerbang. dia menyalakan mesin dan…
“Ya ampun, dia mau…”
Terlambat, dia berhasil lolos dari sergapanku. Dia
telah melewati gerbang sekolah, dan nampaknya dia tak kan kembali. Apa
sebenarnya yang dia lakukan, jam belajar belum selesai. Kenapa dia keluar?
Masalahku bertubi-tubu, setelah diusir dari kelas
incaranku pun raib entah kemana.
Otaku terus berpikir, runtutan kejadian hari ini
bukan kebetulan. Entah mengapa, aku merasa semua kejadian ini berhubungan. Tapi
bagaimana, apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya.
Aku percaya tuhan telah mengatur semuanya, tapi jika
seperti ini apa yang bisa aku perbuat. Incaranku telah pergi, dan aku tidak
mungkin kembali ke kelas. Apa, apa aku harus mengikutinya.
Apa aku harus kabur juga dari sekolah, kemudian
mencari si Reno di tempat hiburan mlam seperti tadi malam.
Tak ada pilihan lain, aku segera memindahkan motorku
ke jalur menuju gerbang. Akan kukejar targetku ini, dia harus memberikan
penjelasan terhadap semua perbuatannya.
Setelah motorku masuk jalur, aku segera menyalakan
mesin dan langsung tancap gas.
Kupacu motorku menuju tempat-tempat yang kudatangi
semalam, aku yakin Reno tak akan pergi jauh selain ke tempat-tempat itu.
Wah lanjutannya mana nih? Aku masih mau baca...
BalasHapus