Sabtu, 07 Februari 2015

Prahara Hati 2



Sekarang jam menunjukan pukul sembilan tiga puluh, dan aku masih terus membuntuti si korban. Dia keluar masuk tempat hiburan, dan ini sudah yang ke lima kalinya.
Entah apa yang dicari, setelah lima menit di dalam  dia langsung keluar. Dan aku tidak melihat barang apapun yang dia bawa saat keluar dari tempat tersebut, aneh sekali kalau menurutku.
Namun tampaknya sekarang agak berbeda, lima menit sudah berlalu dan dia masih di dalam. Ini mungkin pertanda baik, atau bahkan sebaliknya. Yang jelas saatnya aku beraksi, akan kupecahkan masalahnya sekarang.

Agar tidak mencurigakan, aku harus ganti baju dulu. Kerudung, jaket, harus diganti. Tapi dimana kamar kecilnya, aku harus bergerak cepat.
Nah itu dia.

“Oke, sekarang sempurna.” Rok mini dengan atasan kaus tak berlengan dan rambut panjang ter-urai, ditambah high hill aku serasa artis Hollywood. “Tak apalah, hanya untuk malam ini saja.” Kataku mengukuhkan niat.

Segera aku masuk ke tempat tersebut.
Untung saja penjaga tidak memeriksaku, dia tidak curiga saat aku menyelinap diantara wanita-wanita tinggi dan cantik yang barusan lewat. Mungkin karena tubuhku yang tersamarkan oleh badan mereka, aku jadi beruntung.
Sekarang aku sudah di dalam.
Suasana disini sangat bising, alunan musik keras dan teriakan orang-orang yang sedang mabuk lampu disko berbaur menjadi satu. Kurasa akan sulit menemukan si Reno di tempat seperti ini, terlalu banyak orang.
Apa yang harus aku lakukan.

Berdiri di antara kerumunan gadis cantik dan pemuda-pemuda tampan membuatku jadi berbeda. Aku serasa berada di atas kapal yang sedang berlayar, diombang-ambing ombak dan bergoyang di lautan. Irama lampu dan alunan musik membuat tubuhku ingin bergerak, aku dibuat hampir menari.
Bagaimana ini, aku tak tahan.
Musik yang menghentak menggerakan kakiku kesana kemari, melangkah dan sesekali melonpat. Tubuhku tak mau diam, dia terasa gatal menerima alunan musik yang menggema. Aku bergerak, tanganku terangkat ke udara dan kepalaku menggeleng bersama puluhan orang lainnya. Aku terbawa, hasrat liarku lepas dan aku masuk dunia mereka.

Musik berhenti, aku baru bisa menghentikan tubuhku.
Apa yang terjadi, kenapa aku begini. Kenapa aku malah menari bersama mereka, bukankah tujuanku kesini untuk mencari informasi.
“Ya tuhan, apa yang aku lakukan.” Jeritku dalam hati.
Sesegera mungkin aku keluar dari tempat itu, tak kuhiraukan tugas yang belum kubereskan tadi. Kubiarkan misi kali ini terbengkalai, aku tak tahan menghadapi godaan tempat seperti itu. Pantas saja si Reno selalu keluar malam, rupanya tempat itu bisa membuat pengunjungnya lupa diri. Sungguh mengerikan.

Kulihat jam tanganku.
“Ya ampun, ini sudah pagi. Aku harus segera pulang…” Rasa panik menguasaiku.
Melihat jam menunjukan pukul empat pagi aku jadi panik, segera kunyalakan mesin motor dan menancap gas. Tak kupedulikan pakaianku yang masih belum kuganti, yang terpenting saat ini adalah pulang. Aku tak mau membuat ibu Kost marah, bisa panjang urusan jika hal itu terjadi.
Sesampainya di depan pintu, perasaanku jadi tidak enak. Semua lampu di tempat aku tinggal menyala, dan tak biasanya seperti itu.
Kulihat kembali jam tanganku.
“Jam empat tiga puluh, semoga saja si ibu belum bangun…” Pintaku dalam hati.
Aku membuka pintu dengan perlahan, aku tidak mau semua penghuni Kost-an terbangun hanya karena aku yang baru pulang. Kusenyapkan setiap langkah agar tidak ada yang mendengar, dan aku juga berharap tidak ada yang melihat kedatanganku.
Sesegera mungkin aku masuk ke dalam kamar, lalu kemudian aku menguncinya dari dalam. Aku tak mau ada yang memergokiku dengan pakaian seperti ini, ini sungguh memalukan. Mau ditaruh dimana mukaku jika ibu Kost dan keluarganya melihatku berpakaian seperti ini, bisa dikira perek nantinya.
Ih na’udzubillah deh…

Kuperhatikan diriku di cermin.
Dengan pakaian minim seperti ini, aku memang terlihat seksi. Tapi ada sesuatu yang hilang, wajahku tak terlihat manis lagi. Memang cantik, tapi tak seindah saat auratku tertutup.
Bahkan tak hanya itu, aku melihat paras indahku bagaikan gorengan yang dijual di warung. Tak semahal kue atau makanan yang ada di super market, mereka tertutup dan terjaga serta tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Berbeda dengan gorengan yang disentuh, dijamah, lalu dibiarkan jika tak sesuai selera. Yang hanya akan dipilih jika sudah tidak ada yang lain lagi, Aku merasa murahan.
Sungguh sakit rasanya jika membayangkan apa yang terjadi semalam, aku membiarkan orang-orang di tempat sialan itu menikmati indahanya tubuhku secara cuma-cuma. Mereka berdekatan, bersenggolan dan berdempetan denganku dengan leluasa. Dan aku membiarkannya begitu saja, sungguh memalukan.
Air mataku menetes.
“Tuhan, maafkan aku karena telah menurunkan derajatku sendiri. Maaf karena aku tidak bisa menjaga diriku dari godaan terkutuk itu, aku terlena…”

Allahu akbar allahu akbar…
Allahu akbar allahu akbar…

Kumandang adzan terdengar olehku.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, yang sudah terjadi tak mungkin bisa dirubah kembali. Biarkan semua berlalu, yang jelas sekarang bagaimana agar aku tidak mengulanginya lagi.
Sejujurnya aku merasa kecewa dengan diriku sendiri, “Jika aku belum kuat menghadapi godaan seperti semalam, seharusnya aku tidak memaksakan diri.” Renungku dalam hati, “Harusnya aku tidak sembrono dan bertindak gegabah, harusnya aku mengatur siasat dan tidak bertindak sendiri.”
Ini menyakitkan.

Teringat kejadian semalam, aku tak bersemangat untuk sarapan. Walaupun ibu Kost membujukku agar mau makan, aku merasa tidak lapar. Selera makanku menjadi hilang, perasaan hina dan jijik pada diri sendiri masih mengerubungiku. Aku merasa seperti wanita publik (istilah untuk wanita penghibur) yang menjajakan tubuhnya ke setiap orang, itu sungguh membuatku luka.
Bahkan saat bekendara pun aku masih memikirkan kejadian itu. Seperti sampah yang tak berharga, aku membiarkan tubuhku tersentuh oleh siapa saja. Memalukan, menyedihkan, tidak menyenangkan.

Sesampainya di sekolah perasaanku masih sakit.
Aku masih belum tenang, rasa kecewa masih menyelimuti tubuhku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika teman-temanku tahu mengenai hal ini, apa kata mereka.
Apakah mereka akan menghiburku, atau malah menjadikanku hiburan. Apa mereka akan menyemangatiku, atau menjadikanku semangat pemuas mereka. Akankah mereka peduli, atau malah mendzolimi.
“Ah… apa yang aku pikirkan, kenapa aku begini?” hatiku berontak, “Kenapa aku jadi loyo begini, kenapa tak bersemangat seperti biasanya. Mana Anzani yang tangguh, mana Anzani yang selalu tegar menghadapi apapun. Mana, mana?”
“Mana Anzani yang punya keyakinan teguh, mana dia. Mana yang punya keinginan hidup mandiri, mana yang tak mau membebani orang tua. Mana, mana Anzani?”
Hatiku terus berontak.
“Kemana sebenarnya Anzani Rara Mustika, mana dia yang tak pernah mengeluh menghadapi masalah. Mana, aku tanya mana?” perlahan emosiku bangkit.
“Aku boleh salah, karena aku manusia yang tak sempurna.” Pikirku, “Tak ada apapun yang tuhan berikan, kalau tidak seukuran dengan hambanya. Tak ada apapun yang tak termaafkan, selama kita memintanya.”
“Apakah aku harus bersedih, apakah aku harus terpuruk. Atau apakah aku…”
“Tidak, aku tidak bisa seperti itu. Aku bukan orang yang hanya pasrah menerima keadaan, aku masih bisa bangkit jika jatuh. Aku masih bisa berdiri saat tersungkur, dan aku masih bisa meminta maaf kalau salah. Kenapa aku seperti ini, apa yang aku pikirkan. Bukankah tuhan mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik, kenapa aku harus larut dalam kegalauan seperti ini?”
“Anzani, ayo bangkit. Yang semalam bukan hal yang terburuk, jika kalah hanya karena peristiwa seperti itu bagaimana bisa menghadapi hal yang lebih besar?”
“Iya, aku boleh sedih, tapi aku tidak bisa larut. Aku boleh kecewa, tapi aku tidak bisa selamanya. Aku harus bangkit, aku harus melangkah. Masalahku belum selesai, masalahku masih banyak…”

D.S.

Cukup!
Masalahku terlalu banyak jika harus ditambah dengan perasaan tak menyenangkan ini, dan aku tak bisa melakukan itu. Aku harus menyelesaikan misi, dan ingat Aku harus menyelesaikan sekolahku. Aku tak bisa larut dalam emosi berkepanjangan yang hanya membuatku tak melakukan apa-apa, intinya masalah harus diselesaikan bukan dipecahkan.
Aku harus menyelesaikannya.

Kubuat catatan kecil di buku saku, kucoba untuk membuat pola dari data yang berhasil kukumpulkan. Satu demi satu kejadian itu aku rangkai, tak lupa kutulis beberapa hal yang menurutku masih janggal. Ini mungkin biasa bagi kalian yang senang dengan masalah atau kasus, tapi bagiku ini tak semudah membalikan telapak tangan.

“Akhirnya, selesai juga.” Ujarku setelah deduksiku selesai.
“Apaan tuh Ra?”
“Astagfirullah, ya ampun…” aku berbalik, “Ah Quru, kirain siapa…” Kataku masih kaget.
“Emang kenapa,” dia tampak heran. “Kaget? Bukanya biasa kalau aku ngagetin kamu?”
“Enggak sih, cuma sedikit…”
“Apa?” nadanya terasa ketus.
“Udahlah terserah!” aku pun pergi meninggalkannya.
Dia benar-benar heran dan tak mengerti, entah apa yang ada dalam pikirannya (atau hanya pikiranku). Walaupun terbiasa dibentak olehku, tapi kali ini dia berbeda. Apa aku terlalu kasar, atau bagaimana?

Saat jam istirahat tiba, aku bergegas menemui Ikka dan Ibay. Aku harus memberitahu mereka rencana selanjutnya, waktu kami tinggal sedikit. Selain mereka berdua aku juga harus menemui Ahid dan Willy, mereka secara tidak langsung terlibat ke dalam masalah ini.

“Bay,” aku menemuinya di kantin. “Sini!” aku melambaikan tangan.
Dia menghampiriku.
“Apa teh? Ada perkembangan baru?” tanyanya tidak sabar.
“Iya, ini. Kamu baca terus lakukan apa intruksinya!” kataku sambil memberikan secarik kertas.
Aku buru-buru pergi setelah dia mengambil kertas itu, dan tak kudengarkan pertanyaan yang keluar dari mulutnya setelah itu.

Selanjutnya Ikka, dia ada di kelas.
“Maaf dek bisa panggilin Ikka,” kataku pada seorang siswi.
“Ikka?”
“Eh maksudnya Vriska!” ralatku padanya.
“Oh Vriska, iya teh sebentar…” dia masuk ke dalam kelas.
Sesaat kemudian dia keluar bersama Ikka.
“Ini teh!”
“Oh, makasih ya.”
“Sama-sama teh…” dia pergi meninggalkan kami setelah membawa Ikka padaku.
“Iya the ada apa?” Ikka langsung bertanya.
“Begini, ini masalah si Reno.” Kataku, “Kamu baca kertas ini, terus kamu lakuin apa yang tertulis disini!”
Tanpa banyak bertanya dia mengambil kertas itu dan membawanya.
Bagus, sekarang tinggal Ahid dan Willy. Namun sebelum itu aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu, ini sangat penting.

Begitu sibukkah aku sehingga tak kusadari bahwa Quru dari tadi melempari kepalaku dengan kertas. Atau aku memang tak menyadarinya, terlalu dingin atau memang lemot. Sudahlah, ini bukan masalah penting.
Aku berbalik.
“Apa?” kataku dengan volume rendah.
Dia menuliskan sesuatu di kertas, kemudian melemparnya padaku.
“Apa?” kataku lagi, masih dengan volume rendah.
“Baca!” jawabnya dengan volume tak kalah pelan.
Kupungut kertas itu dari lantai dan kubaca.

Untuk Rara yang cantik.
Maaf soal yang tadi, bukan maksud aku mau bikin kamu marah. Aku cuman penasaran aja, kenapa kamu banyak melamun seharian ini?
Apa kamu sakit? Atau kamu punya masalah?
Cerita dong sama aku, jangan diem begitu. aku jadi hawatir…
Tertanda, Quru.

Oh ini maksudnya.
Aku tersenyum membaca tulisan itu, sungguh aneh rasanya. Tak biasanya Quru perhatian seperti ini, dia kan selalu menggodaku. Kenapa dia mendadak jadi begini…
“Ah… apa sih…”
Cepat kuremas kertas tersebut dan kumasukan ke kolong meja, aku tak mau melihatnya lagi.
Namun sepertinya dia tidak mau menyerah, beberapa bola kertas meluncur membentur kepalaku sesaat kemudian.
“Apa lagi?” aku menoleh.
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri dan berbalik, kuhampiri dia yang sedang menggenggam kertas hendak melemparnya.
“Apa?” bentaku dengan nada tinggi.
Dia menggeleng.
“Ngomong!” aku jadi geram.
Dia masih menggeleng.
“Ayo ngomong!” aku memegang kerah bajunya, “Ngomong enggak?”
Dia menelan ludah.

“Ah… diem…”
Seseorang menepuk bahuku.
“Apa sih, diem ih…”
Dia masih terus menepuk bahuku. Aku berbalik.
“A…” tiba-tiba kalimatku terhenti. Itu bu guru.
Dengan mata tajam memandangku bagai elang, tangan kokoh mencengkeram penggaris kayu yang besar dan keras. Beliau berdiri di depanku penuh emosi, penuh kekuasaan dan wewenang. Mengerikan, tak ada lagi yang bisa kupastikan dari sosok ini selain amarah.
Dengan gerakan cepat matanya melirik kesamping, detik berikutnya mata itu memandangku kembali. Semua tahu, jika mata itu bergerak itu tandanya perintah. Beliau tadi melirik pintu kelas yang terbuka, itu artinya beliau menyuruhku menutup pintu. Dan tatapan yang kedua bermakna kekesalan, beliau ingin aku menutup pintu tadi dari luar.

D.S.

Ini menjengkelkan.
Aku adalah korban dalam kejadian ini, harusnya yang keluar itu Quru bukan aku. Kenapa semua seperti ini, tak adil. Dia kan yang melempar kertas-kertas itu, kenapa aku yang kena hukuman.
Batinku berdemo dalam pikiran, emosiku terus meluap-luap dalam hati. Kekesalan terhadap Quru membuatku bagaikan orang gila, marah-marah sendiri, mengamuk juga sendiri, kesal, kesal sendiri.

Namun itu tidak berlangsung lama, mataku keburu menangkap sesuatu. Sesuatu yang selama ini aku incar, yang menjadi inti dari permasalahan yang kuhadapi.
Ya, dia Reno.
“Mau kemana dia?” bisiku pelan.
Aku membuntutinya ke tempat parkir.
Dia sedang memindahkan sepeda motor, “Apa yang akan dia lakukan?” tanyaku dalam hati.
Setelah motor itu memasuki jalur yang mengarah ke pintu gerbang. dia menyalakan mesin dan…
“Ya ampun, dia mau…”

Terlambat, dia berhasil lolos dari sergapanku. Dia telah melewati gerbang sekolah, dan nampaknya dia tak kan kembali. Apa sebenarnya yang dia lakukan, jam belajar belum selesai. Kenapa dia keluar?
Masalahku bertubi-tubu, setelah diusir dari kelas incaranku pun raib entah kemana.

Otaku terus berpikir, runtutan kejadian hari ini bukan kebetulan. Entah mengapa, aku merasa semua kejadian ini berhubungan. Tapi bagaimana, apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya.
Aku percaya tuhan telah mengatur semuanya, tapi jika seperti ini apa yang bisa aku perbuat. Incaranku telah pergi, dan aku tidak mungkin kembali ke kelas. Apa, apa aku harus mengikutinya.
Apa aku harus kabur juga dari sekolah, kemudian mencari si Reno di tempat hiburan mlam seperti tadi malam.

Tak ada pilihan lain, aku segera memindahkan motorku ke jalur menuju gerbang. Akan kukejar targetku ini, dia harus memberikan penjelasan terhadap semua perbuatannya.
Setelah motorku masuk jalur, aku segera menyalakan mesin dan langsung tancap gas.

Kupacu motorku menuju tempat-tempat yang kudatangi semalam, aku yakin Reno tak akan pergi jauh selain ke tempat-tempat itu.

1 komentar: