Minggu, 01 Februari 2015

TULIS...



KEBAKARAN…
KEBAKARAN…
Mataku langsung terbuka, dan aku seketika berlari menyelamatkan diri ke luar ruangan. Rasa panik meguasaiku, tak kuhiraukan jalan yang aku lalui. Yang ada dalam benakku saat ini adalah keluar…

Entar dulu, masa ceritanya gitu…
Masa dari kebakaran langsung ke lari, terus ada jalan lagi, itu kejauhan. Ceritanya kan sekitar rumah, masa ada jalan. Kesannya jadi udah di luar ruangan kalau gitu…
Aku terus berpikir.
Aku masih mencari ide bagus untuk membuat tulisan, aku tak ingin mengecewakan Naza. Kali ini aku ingin dia membaca sebuah karya bagus, tapi apa…
Apa yang harus aku tulis.

Perlahan jari jemariku mulai bosan, aku mulai kehilangan semangat untuk menulis. Suasana kamar yang begitu kelam membuatku makin mengantuk, kepalaku menjadi semakin berat. Tak kuat rasanya jika harus membayangkan adegan berikutnya dalam cerita, apalagi adegan ekstrim, itu membuatku semakin pusing.
Sepertinya pikiranku ini tak mau berkompromi, rupanya dia ingin aku beristirahat. Dia tak membiarkanku untuk menerawang jauh kedalam lamunan, dia menghendaki aku diam dan tidak memaksanya pergi jauh.
Sungguh menyebalkan.
Disaat aku memiliki keinginan, semua terasa menolakku dengan keras. Mereka tak membiarkanku bebas, mereka tak mau aku melangkah. Aku seperti kura-kura yang hanya bisa sembunyi dalam tempurung kokoh tak tergoyahkan, atau seperti siput dalam cangkang yang tak bebas bergerak. Bahkan mungkin, aku ini kerang mutiara yang hanya jago dalam kandang.
Tak heran aku hanya bisa menulis cerita murahan yang tak laku di pasaran, atau sekedar prosa yang tak layak diperhitungkan.
Ini sungguh menyebalkan.

Menyerah pada keadaan, kuhentikan semua aktipitas jemariku yang melelahkan. Kusandarkan punggungku pada kursi, dan ini adalah kesekian kalinya aku melakukan itu.
Setiap aku mendapatkan cerita menarik, adegannya selalu terpotong di tengah. Membuatku merasa jenkel, ditambah suara tetangga yang memekakan telinga, aku menjadi semakin tak konsentrasi.
Sepertinya, dewi keberuntungan tidak menjenguku malam ini. Dia sedang sibuk dengan dewa Olimpus yang memaksanya agar memberi nasihat supaya perang mereka menangkan, atau dia sedang mencari pujangga lain yang lebih gagah dan perkasa untuk menemaninya malam ini.
Mengecewakan.
Disaat aku mengharapkan sebuah ilham, tak ada satu pun yang datang memberi penerangan.

Mataku menatap hampa, kupandang jendela kamar di depanku. Jendela yang kubiarkan terbuka, karena ada seseorang yang selalu melihatku dari sana.
Wajahnya begitu polos, dia selalu mengawasiku dari balik tirai jendela. Sengaja kubuka tirai itu malam ini, berharap aku bisa menatap wajahnya langsung. Setidaknya jika tanpa tirai pemisah, aku bisa menerawang luas ke luar jendela walaupun tidak melihatnya.
Namun sepertinya, tidak semua keinginanku tak terpenuhi. Sekelabat bayangan baru saja melintas di depan jendela, tepat di hadapanku.
Yah… mungkin itu dia.
“Ayo, tunjukan wujud kamu!” kataku setelah bayangan itu melintas. “Ayo, tidak usah ragu. Perlihatkan saja, aku tidak akan takut!” pintaku sekali lagi.
Srrrkkkkk…
Aku berdiri ketika sebuah suara terdengar dari luar.
“Nah begitu, beri tanda!” aku bergegas menuju jendela, “Aku tidak akan takut, aku sudah sering melihat kamu dari balik tirai. Kamu yang selalu mengawasiku setiap malam kan, ayo keluarlah. Tunjukan wujud kamu, aku tidak akan takut!”
Tidak ada jawaban, namun persaanku tetap gembira. Aku berharap dia akan muncul, aku ingin menemuinya.
“Kok kamu diem aja sih, please muncul dong... Aku pingin lihat kamu, aku janji enggak bakal takut!” pintaku. “Muncul ya, please… aku mohon…”
Sepertinya dewi keberuntungan itu memang tidak berpihak padaku.

***

Sebenarnya, harapanku sangat besar pada bayangan itu. Aku selalu memimpikan dia datang dan menemaniku disaat aku sendiri, disaat aku tak punya ide dia membantuku menemukan ilham.
Aku berharap seperti itu.
Namun, apa boleh buat jika dia tidak ingin menemuiku. Aku pun tidak bisa memaksanya. Padahal, aku selalu memperhatikan saat dia mengintipku dari sela jendela.
Dan aku pun berpura-pura tidak tahu saat dia masuk ke kamarku diam-diam. Aku berharap dia mau menunjukan diri, aku selalu ingin melihatnya secara langsung.
“Hei…” aku memanggilnya, “Tunjukan diri kamu, aku ingin lihat kamu!”
Masih tidak ada jawaban.
“Ya sudahlah jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa!” aku membalikan badan, “Tadinya aku berharap bisa ketemu sama kamu, tapi jika kamu tidak mau…”
Aku melangkah menjauhi jendela.
“Tunggu!” sebuah suara menahanku.
Aku langsung berbalik.
“Dimana?” aku tidak melihat apapun. “Kamu dimana?” kembali aku mendekati jendela. “Ayolah… tunjukan diri kamu!”
“Lihat ke langit!”
“Ya ampun…” aku terkejut, “Apakah itu…”
“Ya, ini aku!” seberkas cahaya bersinar di angkasa, cahaya itu mengarah ke jendela dimana aku berada. “Aku akan menemuimu, tenanglah aku akan melakukannya!”
Aku mundur beberapa langkah.
Sekarang tubuhku bergetar, perasaan takut dan gembira bercampur dalam diriku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan melihat sebuah bintang jatuh mengarah tepat kekamarku.

Cahaya itu berhenti di depan jendela.
“Jangan takut, kamu bilang kamu tidak akan takut kan...”
Aku menelan ludah.
“Ka… ka… kamu yang selama ini mengintipku?” aku memberanikan diri.
“Ya, aku yang selama ini melihatmu dari balik jendela.” Cahaya itu perlahan redup, “Aku juga yang melintas di hadapanmu tadi!”
Sekarang aku melihat sesosok manusia.
“Ka…Kamu siapa?” aku mendekat.
“Aku Anzani!” wajahnya terangkat. “Rara Mustika, Panggil saja aku Rara!” dia tersenyum padaku.
Senyum yang begitu manis, hatiku tenang menatap wajah itu. Rambut yang panjang bergelombang, matanya sayup memandangku penuh kelembutan. Jantungku berdegup saat memandangnya, perasaan apa ini.
Tubuhku memaku, aku tidak bisa menggerakannya.

***

“Oh… jadi kakak ingin membuat sebuah cerita untuk Naza?” Anzani bertanya.
“Ya, seperti itu. Tapi kamu lihat sendiri kan, aku masih belum punya ide apa-apa.” Kataku, “Aku masih bingung, apa yang meski aku tulis untuk dia?”
“Haduh kak… kalau masalah ide aku juga enggak bisa ngasih.”
“Terus gimana, masa aku harus…”
“STOP!” Anjani memotong kalimatku.
“Kak, denger ya…” dia menatapku, “Kakak mau bikin cerita, ya bikin aja. Enggak perlu nunggu ide muncul!”
“Tapi kan…”
“Enggak. Ada. Tapi. Tapi. An. Titik.” Semua kalimatnya dia ucapkan penuh penekanan.
Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau begitu, mau tidak mau aku harus menurut. Walaupun pada awalnya aku sangat ingin bertemu dengan dia, ternyata Anzani ini rewel sekali.
Sejak bertemu se-jam lalu, dia terus memaksaku untuk menulis. Dia tidak peduli dengan isi dan kualitas tulisan, baginya menulis adalah curahan jiwa. Dia menganggap kegiatanku mengarang adalah luapan perasaan batin yang selama ini dipendam, dia juga mengira bahwa karanganku yang selama ini  ditulis dan ia baca secara diam-diam adalah isi hatiku.
Padahal sesungguhnya kegiatanku selama ini hanya tuntutan tugas. Aku hanya mengarang memenuhi kewajibanku sebagai seorang sastrawan, seorang pujangga yang selalu menuangkan setiap ide yang di temukannya ke dalam prosa.
“Ra… lihat!” aku menyodorkan hasil tulisanku pada anzani, “Apa tulisan seperti ini yang kamu mau baca?”
“Ya…” dia duduk di atas meja, “Aku mau baca apapun yang kakak tulis!” dia tampaknya tidak memperhatikan tulisanku, yang ada dalam pikirannya hanya baca-baca dan baca.
“Ya ampun Ra, itu kan asal-asalan. Aku nulis itu tanpa nyantumin makna tertentu, aku cuma asal ngarang.”
“Enggak apa-apa,” dia membetulkan kaca matanya. “Udah aku bilang kan, aku mau baca. Dan lagi pula, di dunia aku tulisan asal-asalan itu berasal dari hati.”
Aku menjadi tidak enak.
“Jadi kalau memang benar kakak nulis ini asal-asalan, berarti ini adalah ungkapan hati kakak.”
Ya ampun gawat, kalau benar Anzani berpikir seperti itu, bisa habis aku…
“Sini Ra…” aku berusaha mengambil kertas itu dari dia.
“Eit… enggak bisa, kertas ini udah di tangan aku. Enggak bisa balik lagi!”
“Sini-in enggak?”
“Enggak!” dia menjulurkan lidah, “Ueee…”
“Ih… sini balikin, cepet!” aku berusah menggapai tangan anjani yang terus melambai-lambaikan kertas itu di udara.
“Enggak mau, aku bilang aku enggak mau. Uee…!”
“Balikin enggak?”
“Enggak, biar aku baca aja!” dia melompat ke luar jendela.
“Jangan!”
“Denger ya kak…”

Malam ini terasa sangat sepi, rembulan malam yang biasanya menemaniku pun tak terlihat lagi. Bahkan bintang-bintang yag selalu memberikan adegan percintaan dan kehidupan tak nampak di langit malam, semua bersih dan tak bernoda.
Dewi kesedihan tampaknya sedang hinggap pada diriku malam ini, perasaan tak enak dan tak menentu terus menghantuiku sepanjang waktu.
Apa artinya ini, apa yang terjadi pada diriku malam ini?
Apakah sang dewi malam tak mau bercinta denganku lagi?
Ataukah dia telah memliki pujangga lain yang lebih sejati?
Atau memang dewi kemenangan tak membelaku lagi?
Mungkin malam ini aku ditakdirkan untuk sendiri, merenungkan  runtutan cerita tak bertepi yang sedang kujalani. Memintaku mengungkap isi hati, memaksa mengikrarkan kasih sejati…

“Tuh kan, kak.” Anzani memandangku, “aku bilang juga apa, ini dari hati!”
Pipiku memerah.
“Iya-iya… itu dari hati.”
“Kenapa enggak ngaku coba?” dia menghampiriku. “Kalau bilang dari tadi kan aku enggak usah terbang-terbang segala, jadi aku bisa ngehemat energi buat ngebantu kakak…”
Dia tepat di depanku sekarang.
“Maksud kamu?”
“Iya, aku tahu kakak mau bikin cerita buat…”
“Naza!” sela-ku.
“Nah, aku bisa bantuin kakak buat nge-visualisasikan setiap adegan buat kakak.”
Aku terdiam.
“Malah bengong, ngerti enggak kak?”
Aku menggaruk kepala.
“Ih si kakak lemot…”
Aku tersenyum, “Hehe…”
“Aduh…” Anzani menghela nafas. “Udah ikut aja, enggak usah di jelasin!”
Tangannya memegang bahuku.
“Kemana?”
“Ke plot yang kakak butuh buat cerita!”

***

“Nah sekarang buka mata!”
“ini…?”
“Enggak usah pura-pura deh kak!” Anzani menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Sebenarnya kakak tahu tempat ini kan?” matanya tajam melihatku.
Aku mengangkat kedua tanganku ke atas kepala.
“Ya ampun kakak, ini kan pikiran kakak!” dia nampak kesal, “Lihat!” telunjuknya dia arahkan ke langit. “Itu big diper, bintang kesukaan kakak. Itu polaris, tujuh bintang seri. Itu scorpion, segitarius, libra, taurus…” telunjuknya begitu lincah menunjuk ke angkasa dan bibirnya begitu cekatan mengabsen setiap bintang yang dilihatnya.
Ya ampun, aku benar-benar lupa tempat ini. Aku lupa bagaimana awalnya aku menulis, aku lupa betapa besar semua yang tuhan berikan. Aku tak ingat bagaimana aku memulai petualanganku di dunia sastra, bagaimana aku menata bintang-bintang itu. Sungguh, aku sudah lupa.
Anzani mengembalikannya, dia mengingatkanku kepada awal semuanya.

“Ye… malah ngelamun, KAKAK!”
Teriakannya menyadarkanku.
“Astagfirullah, Rara…”
“Kak cepet!”
“Apa?” pikiranku masih melayang.
“Cepet pilih kenangan mana yang mau kakak inget?”
“Kenangan apa?”

Indahnya masa silam menenggelamkanku dalam lamunan, membuatku terlena sehingga tak menyadari yang terjadi di sekitarku.
“Ini semua kenangan kakak sama Naza, sekarang pilih mana yang mau di lihat!”
Menakjubkan, ini luar biasa.
Semua kenangan tentang Naza beterbangan mengelilingiku, kenangan-kenangan itu terlihat dalam ribuan gelembung yang memenuhi udara.
“Malah ngelamun lagi, Kak cepet!”
“Eh, iya!”
Ku susuri setiap barisan gelembung itu, kucari kenangan yang paling menyenangkan tentang Naza.
Pilihanku pun jatuh, aku berhenti pada sebuah gelembung yang menampakan pembicaraan tiga orang.
Aku, Naza dan Vriska duduk di kantin. Sesekali kami melihat ke jalan, memastikan bahwa ayah Vriska datang menjemput. Kami bercerita banyak hal waktu itu, mulai dari yang sepele sampai yang menurutku cukup rumit. Semua mengalir bagai air, menghanyutkan kami kedalam suasana menyenagkan yang layak untuk dikenang…

1 komentar: