KEBAKARAN…
KEBAKARAN…
Mataku langsung
terbuka, dan aku seketika berlari menyelamatkan diri ke luar ruangan. Rasa
panik meguasaiku, tak kuhiraukan jalan yang aku lalui. Yang ada dalam benakku
saat ini adalah keluar…
Entar
dulu, masa ceritanya gitu…
Masa dari
kebakaran langsung ke lari, terus ada jalan lagi, itu kejauhan. Ceritanya kan
sekitar rumah, masa ada jalan. Kesannya jadi udah di luar ruangan kalau gitu…
Aku terus
berpikir.
Aku masih
mencari ide bagus untuk membuat tulisan, aku tak ingin mengecewakan Naza. Kali
ini aku ingin dia membaca sebuah karya bagus, tapi apa…
Apa yang
harus aku tulis.
Perlahan
jari jemariku mulai bosan, aku mulai kehilangan semangat untuk menulis. Suasana
kamar yang begitu kelam membuatku makin mengantuk, kepalaku menjadi semakin
berat. Tak kuat rasanya jika harus membayangkan adegan berikutnya dalam cerita,
apalagi adegan ekstrim, itu membuatku semakin pusing.
Sepertinya
pikiranku ini tak mau berkompromi, rupanya dia ingin aku beristirahat. Dia tak
membiarkanku untuk menerawang jauh kedalam lamunan, dia menghendaki aku diam
dan tidak memaksanya pergi jauh.
Sungguh
menyebalkan.
Disaat
aku memiliki keinginan, semua terasa menolakku dengan keras. Mereka tak
membiarkanku bebas, mereka tak mau aku melangkah. Aku seperti kura-kura yang
hanya bisa sembunyi dalam tempurung kokoh tak tergoyahkan, atau seperti siput
dalam cangkang yang tak bebas bergerak. Bahkan mungkin, aku ini kerang mutiara
yang hanya jago dalam kandang.
Tak heran
aku hanya bisa menulis cerita murahan yang tak laku di pasaran, atau sekedar
prosa yang tak layak diperhitungkan.
Ini
sungguh menyebalkan.
Menyerah
pada keadaan, kuhentikan semua aktipitas jemariku yang melelahkan. Kusandarkan
punggungku pada kursi, dan ini adalah kesekian kalinya aku melakukan itu.
Setiap
aku mendapatkan cerita menarik, adegannya selalu terpotong di tengah. Membuatku
merasa jenkel, ditambah suara tetangga yang memekakan telinga, aku menjadi
semakin tak konsentrasi.
Sepertinya,
dewi keberuntungan tidak menjenguku malam ini. Dia sedang sibuk dengan dewa Olimpus
yang memaksanya agar memberi nasihat supaya perang mereka menangkan, atau dia
sedang mencari pujangga lain yang lebih gagah dan perkasa untuk menemaninya
malam ini.
Mengecewakan.
Disaat
aku mengharapkan sebuah ilham, tak ada satu pun yang datang memberi penerangan.
Mataku
menatap hampa, kupandang jendela kamar di depanku. Jendela yang kubiarkan
terbuka, karena ada seseorang yang selalu melihatku dari sana.
Wajahnya
begitu polos, dia selalu mengawasiku dari balik tirai jendela. Sengaja kubuka
tirai itu malam ini, berharap aku bisa menatap wajahnya langsung. Setidaknya
jika tanpa tirai pemisah, aku bisa menerawang luas ke luar jendela walaupun
tidak melihatnya.
Namun
sepertinya, tidak semua keinginanku tak terpenuhi. Sekelabat bayangan baru saja
melintas di depan jendela, tepat di hadapanku.
Yah…
mungkin itu dia.
“Ayo,
tunjukan wujud kamu!” kataku setelah bayangan itu melintas. “Ayo, tidak usah
ragu. Perlihatkan saja, aku tidak akan takut!” pintaku sekali lagi.
Srrrkkkkk…
Aku
berdiri ketika sebuah suara terdengar dari luar.
“Nah
begitu, beri tanda!” aku bergegas menuju jendela, “Aku tidak akan takut, aku
sudah sering melihat kamu dari balik tirai. Kamu yang selalu mengawasiku setiap
malam kan, ayo keluarlah. Tunjukan wujud kamu, aku tidak akan takut!”
Tidak ada
jawaban, namun persaanku tetap gembira. Aku berharap dia akan muncul, aku ingin
menemuinya.
“Kok kamu
diem aja sih, please muncul dong...
Aku pingin lihat kamu, aku janji enggak bakal takut!” pintaku. “Muncul ya, please… aku mohon…”
Sepertinya
dewi keberuntungan itu memang tidak berpihak padaku.
***
Sebenarnya,
harapanku sangat besar pada bayangan itu. Aku selalu memimpikan dia datang dan
menemaniku disaat aku sendiri, disaat aku tak punya ide dia membantuku
menemukan ilham.
Aku
berharap seperti itu.
Namun,
apa boleh buat jika dia tidak ingin menemuiku. Aku pun tidak bisa memaksanya.
Padahal, aku selalu memperhatikan saat dia mengintipku dari sela jendela.
Dan aku
pun berpura-pura tidak tahu saat dia masuk ke kamarku diam-diam. Aku berharap
dia mau menunjukan diri, aku selalu ingin melihatnya secara langsung.
“Hei…”
aku memanggilnya, “Tunjukan diri kamu, aku ingin lihat kamu!”
Masih
tidak ada jawaban.
“Ya
sudahlah jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa!” aku membalikan badan,
“Tadinya aku berharap bisa ketemu sama kamu, tapi jika kamu tidak mau…”
Aku
melangkah menjauhi jendela.
“Tunggu!”
sebuah suara menahanku.
Aku
langsung berbalik.
“Dimana?”
aku tidak melihat apapun. “Kamu dimana?” kembali aku mendekati jendela.
“Ayolah… tunjukan diri kamu!”
“Lihat ke
langit!”
“Ya
ampun…” aku terkejut, “Apakah itu…”
“Ya, ini
aku!” seberkas cahaya bersinar di angkasa, cahaya itu mengarah ke jendela dimana
aku berada. “Aku akan menemuimu, tenanglah aku akan melakukannya!”
Aku
mundur beberapa langkah.
Sekarang
tubuhku bergetar, perasaan takut dan gembira bercampur dalam diriku. Tak pernah
terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan melihat sebuah bintang jatuh mengarah
tepat kekamarku.
Cahaya
itu berhenti di depan jendela.
“Jangan
takut, kamu bilang kamu tidak akan takut kan...”
Aku
menelan ludah.
“Ka… ka…
kamu yang selama ini mengintipku?” aku memberanikan diri.
“Ya, aku
yang selama ini melihatmu dari balik jendela.” Cahaya itu perlahan redup, “Aku
juga yang melintas di hadapanmu tadi!”
Sekarang
aku melihat sesosok manusia.
“Ka…Kamu
siapa?” aku mendekat.
“Aku Anzani!”
wajahnya terangkat. “Rara Mustika, Panggil saja aku Rara!” dia tersenyum
padaku.
Senyum yang
begitu manis, hatiku tenang menatap wajah itu. Rambut yang panjang
bergelombang, matanya sayup memandangku penuh kelembutan. Jantungku berdegup
saat memandangnya, perasaan apa ini.
Tubuhku
memaku, aku tidak bisa menggerakannya.
***
“Oh… jadi
kakak ingin membuat sebuah cerita untuk Naza?” Anzani bertanya.
“Ya,
seperti itu. Tapi kamu lihat sendiri kan, aku masih belum punya ide apa-apa.”
Kataku, “Aku masih bingung, apa yang meski aku tulis untuk dia?”
“Haduh
kak… kalau masalah ide aku juga enggak bisa ngasih.”
“Terus
gimana, masa aku harus…”
“STOP!”
Anjani memotong kalimatku.
“Kak,
denger ya…” dia menatapku, “Kakak mau bikin cerita, ya bikin aja. Enggak perlu
nunggu ide muncul!”
“Tapi
kan…”
“Enggak.
Ada. Tapi. Tapi. An. Titik.” Semua kalimatnya dia ucapkan penuh penekanan.
Aku pun
tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau begitu, mau tidak mau aku harus menurut.
Walaupun pada awalnya aku sangat ingin bertemu dengan dia, ternyata Anzani ini
rewel sekali.
Sejak
bertemu se-jam lalu, dia terus memaksaku untuk menulis. Dia tidak peduli dengan
isi dan kualitas tulisan, baginya menulis adalah curahan jiwa. Dia menganggap
kegiatanku mengarang adalah luapan perasaan batin yang selama ini dipendam, dia
juga mengira bahwa karanganku yang selama ini
ditulis dan ia baca secara diam-diam adalah isi hatiku.
Padahal
sesungguhnya kegiatanku selama ini hanya tuntutan tugas. Aku hanya mengarang
memenuhi kewajibanku sebagai seorang sastrawan, seorang pujangga yang selalu
menuangkan setiap ide yang di temukannya ke dalam prosa.
“Ra…
lihat!” aku menyodorkan hasil tulisanku pada anzani, “Apa tulisan seperti ini
yang kamu mau baca?”
“Ya…” dia
duduk di atas meja, “Aku mau baca apapun yang kakak tulis!” dia tampaknya tidak
memperhatikan tulisanku, yang ada dalam pikirannya hanya baca-baca dan baca.
“Ya ampun
Ra, itu kan asal-asalan. Aku nulis itu tanpa nyantumin makna tertentu, aku cuma
asal ngarang.”
“Enggak
apa-apa,” dia membetulkan kaca matanya. “Udah aku bilang kan, aku mau baca. Dan
lagi pula, di dunia aku tulisan asal-asalan itu berasal dari hati.”
Aku
menjadi tidak enak.
“Jadi
kalau memang benar kakak nulis ini asal-asalan, berarti ini adalah ungkapan hati
kakak.”
Ya ampun
gawat, kalau benar Anzani berpikir seperti itu, bisa habis aku…
“Sini
Ra…” aku berusaha mengambil kertas itu dari dia.
“Eit…
enggak bisa, kertas ini udah di tangan aku. Enggak bisa balik lagi!”
“Sini-in
enggak?”
“Enggak!”
dia menjulurkan lidah, “Ueee…”
“Ih… sini
balikin, cepet!” aku berusah menggapai tangan anjani yang terus
melambai-lambaikan kertas itu di udara.
“Enggak
mau, aku bilang aku enggak mau. Uee…!”
“Balikin
enggak?”
“Enggak,
biar aku baca aja!” dia melompat ke luar jendela.
“Jangan!”
“Denger
ya kak…”
Malam ini terasa sangat sepi, rembulan malam yang
biasanya menemaniku pun tak terlihat lagi. Bahkan bintang-bintang yag selalu
memberikan adegan percintaan dan kehidupan tak nampak di langit malam, semua
bersih dan tak bernoda.
Dewi kesedihan tampaknya sedang hinggap pada diriku
malam ini, perasaan tak enak dan tak menentu terus menghantuiku sepanjang
waktu.
Apa artinya ini, apa yang terjadi pada diriku malam
ini?
Apakah sang dewi malam tak mau bercinta denganku
lagi?
Ataukah dia telah memliki pujangga lain yang lebih
sejati?
Atau memang dewi kemenangan tak membelaku lagi?
Mungkin malam ini aku ditakdirkan untuk sendiri,
merenungkan runtutan cerita tak bertepi
yang sedang kujalani. Memintaku mengungkap isi hati, memaksa mengikrarkan kasih
sejati…
“Tuh kan,
kak.” Anzani memandangku, “aku bilang juga apa, ini dari hati!”
Pipiku memerah.
“Iya-iya…
itu dari hati.”
“Kenapa
enggak ngaku coba?” dia menghampiriku. “Kalau bilang dari tadi kan aku enggak
usah terbang-terbang segala, jadi aku bisa ngehemat energi buat ngebantu
kakak…”
Dia tepat
di depanku sekarang.
“Maksud
kamu?”
“Iya, aku
tahu kakak mau bikin cerita buat…”
“Naza!”
sela-ku.
“Nah, aku
bisa bantuin kakak buat nge-visualisasikan setiap adegan buat kakak.”
Aku
terdiam.
“Malah
bengong, ngerti enggak kak?”
Aku
menggaruk kepala.
“Ih si
kakak lemot…”
Aku tersenyum,
“Hehe…”
“Aduh…”
Anzani menghela nafas. “Udah ikut aja, enggak usah di jelasin!”
Tangannya
memegang bahuku.
“Kemana?”
“Ke plot
yang kakak butuh buat cerita!”
***
“Nah
sekarang buka mata!”
“ini…?”
“Enggak
usah pura-pura deh kak!” Anzani menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Sebenarnya
kakak tahu tempat ini kan?” matanya tajam melihatku.
Aku
mengangkat kedua tanganku ke atas kepala.
“Ya ampun
kakak, ini kan pikiran kakak!” dia nampak kesal, “Lihat!” telunjuknya dia
arahkan ke langit. “Itu big diper, bintang kesukaan kakak. Itu polaris, tujuh
bintang seri. Itu scorpion, segitarius, libra, taurus…” telunjuknya begitu
lincah menunjuk ke angkasa dan bibirnya begitu cekatan mengabsen setiap bintang
yang dilihatnya.
Ya ampun,
aku benar-benar lupa tempat ini. Aku lupa bagaimana awalnya aku menulis, aku
lupa betapa besar semua yang tuhan berikan. Aku tak ingat bagaimana aku memulai
petualanganku di dunia sastra, bagaimana aku menata bintang-bintang itu.
Sungguh, aku sudah lupa.
Anzani
mengembalikannya, dia mengingatkanku kepada awal semuanya.
“Ye…
malah ngelamun, KAKAK!”
Teriakannya
menyadarkanku.
“Astagfirullah,
Rara…”
“Kak
cepet!”
“Apa?”
pikiranku masih melayang.
“Cepet
pilih kenangan mana yang mau kakak inget?”
“Kenangan
apa?”
Indahnya
masa silam menenggelamkanku dalam lamunan, membuatku terlena sehingga tak
menyadari yang terjadi di sekitarku.
“Ini
semua kenangan kakak sama Naza, sekarang pilih mana yang mau di lihat!”
Menakjubkan,
ini luar biasa.
Semua
kenangan tentang Naza beterbangan mengelilingiku, kenangan-kenangan itu
terlihat dalam ribuan gelembung yang memenuhi udara.
“Malah
ngelamun lagi, Kak cepet!”
“Eh,
iya!”
Ku susuri
setiap barisan gelembung itu, kucari kenangan yang paling menyenangkan tentang
Naza.
Pilihanku
pun jatuh, aku berhenti pada sebuah gelembung yang menampakan pembicaraan tiga
orang.
Aku, Naza
dan Vriska duduk di kantin. Sesekali kami melihat ke jalan, memastikan bahwa
ayah Vriska datang menjemput. Kami bercerita banyak hal waktu itu, mulai dari yang
sepele sampai yang menurutku cukup rumit. Semua mengalir bagai air,
menghanyutkan kami kedalam suasana menyenagkan yang layak untuk dikenang…
kepanjangan kak,...
BalasHapus